Sunday, June 28, 2009

Sapa Gerimis




Sapa Gerimis


Rintik gemeritik

hujan menyapa bumi

segalanya sunyi di bawah gerimis pagi

menunggui denyut matahari

menyatukan suara dan hati

dan

teruslah berangkat menuju tumbuh dan hidup

tak ingin pulang pada redup



seperti senja, hujanpun menyimpan katanya sendiri

Pagi hari, pontianak 29/06/2009



Monday, June 22, 2009

KAMI


KAMI


Tanyakanlah tentang kami...
Pada rumah-rumah negeri Syam * dan taman-tamannya,
Pada negeri Irak dan pedesaannya,
Pada Andalusia dan gedung-gedungnya.
Tanyakan tentang kami,
Pada negeri Mesir dan lembah-lembahnya,
Pada Jazirah Arabia dan padang Saharanya,


Tanyakan tentang kami pada dunia dan penghuninya...
Pada padang-padang Afrika,
Pada tanah-tanah subur negeri Ajam,
Pada padepokan-padepokan negeri Persi,Pada lereng-lereng Kaukasus,
Pada kegersangan Kongo,
Pada sepanjang sungai Loire
dan lembah-lembah sungai Danube.


Tanyakan tentang kami,
Pada setiap jengkal tanah di bumi,
Pada setiap pemukiman di kolong langit ini,


Bahwa...
pada mereka semua terekam berita tentang...
Kepahlawanan kami,
Pengorbanan kami,
Jasa-jasa kami,
Kebanggaan-kebanggaan kami,
Peninggalan-peninggalan kami,
Ilmu pengetahuan kami,
Dan keindahan seni kami,

Kami orang Islam!

* * *

Kami orang Islam!
Tiadalah penyiram taman-taman keluhuran,
kecuali darah-darah kami,
Tiadalah penghias surga-surga kepahlawanan,
melainkan jasad-jasad syuhada kami.


Pernahkan kalian kenal dunia...
Yang lebih mulia dan lebih terhormat,
Yang lebih lembut dan lebih kasih-sayang,
Yang lebih agung dan lebih dahsyat,
Yang lebih unggul dan lebih cerdas,
Daripada kami....?


Kami telah membawa pelita petunjuk,
disaat bumi tersesat dalam gelapnya kebodohan,
Dan kami katakan pada penghuninya:

'Inilah jalannya!'


Kami tegakkan timbangan keadilan, disaat bangsa-bangsa menjunjung tinggi tongkat kelaliman,
Kami bangun gedung ilmu pengetahuan, disaat orang-orang mengusir ilmu pengetahuan dari rumah
mereka.
Kami deklarasikan persamaan disaat manusia menyembah para raja dan menuhankan tuan-tuan.
Kami hidupkan hati manusia dengan iman,
Kami hidupkan akal manusia dengan pengetahuan,
Kami hidupkan segenap umat manusia dengan kebebasan
dan peradaban.

Kami orang Islam !

* * *

Kami bangun kota Kufah, Basrah, Cairo, dan Bagdad.
Kami bangun peradaban Syam, Iraq, Mesir dan Andalusia.
Kami dirikan Baitul Hikmah, Madrasah Nizhamiyah,
Universitas Cordova, dan Universitas Al-Azhar.
Kami bangun dan makmurkan masjidAl-Umawi,
Kubah Al-Shahra', SirraMan Ra'a, Al-Zahra',
Al-Hambra, Sultan Ahmad, dan Taj Mahal.


Maka terhiburlah setiap insan yang mengunjunginya.
Kami telah mengajar pada penduduk bumi,
Kamilah guru mereka

Kami orang Islam !
* * *

--Ali Ath Thonthowi—







Menemukan cuplikan syair ini di Leptop, author dengan namanya,
seseorang yang jauh namun serasa dekat.
Ternyata ceceran tulisan tersimpan dalam kenangan.
Yang telah mengajari saya mencintai dakwah ini,
mencintai setiap lekuk terjalnya perjalanan...

Sunday, June 21, 2009

Lilin


:: Lilin


oleh Saiful Bahri


Ada seorang gadis terluka cukup parah akibat kecelakaan di sebuah jalan kecil di Alexandria. Peristiwa ini terjadi lewat tengah malam. Dengan tertatih-tatih ia mencari pertolongan terutama untuk menginap malam itu.


Lampu-lampu flat dan apartemen disekitarnya telah gelap. Hanya sebuah ruangan kecil yang masih tampak remang-remang. Ruangan itu terletak dibawah sebuah apartemen. Sang gadis memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan tersebut.


Penghuni ruangan itu adalah seorang pemuda sederhana, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Alexandria. Saking sederhananya ia hanya mampu menyewa ruang bawah apartemen yang tidak ada fasilitas listriknya. Sehari-harinya ia hanya menggunakan lilin atau lampu minyak sebagai penerang ruangan tersebut.


Kini sang pemuda telah berdiri tegak di depan pintu. Rasa iba menyergapnya ketika melihat seorang gadis terluka di tengah malam saat musim dingin. Ia mencoba menepis berbagai perasaan yang sangat menggejolak. Sejenak ia menghembuskan nafas panjang.


Setelah cukup lama terpaku dalam diam ia memutuskan untuk menerima sang gadis di satu-satunya ruangan yang ada, tempat belajar sekaligus tempat tidurnya. Setelah membersihkan badannya, gadis itu meminta ijin untuk beristirahat sambil menunggu fajar dan pertolongan berikutnya. Adapun sang pemuda segera memutar meja belajarnya membelakangi tempat tidurnya.


Bisa dipastikan, detik-detik berikutnya ia tak lagi bisa konsentrasi. Terlebih sudah saatnya ia beristirahat. Hati kecilnya segera bertanya. Apa yang sebaiknya aku lakukan sekarang ?.


Aku lelah dan ingin segera tidur. Tetapi di mana aku akan membaringkan badan ?. Lintasan-lintasan buruk pun tak luput ikut membujuknya untuk segera istirahat mengingat tugasnya yang cukup berat esok hari.


Setiap kebimbangan itu datang, ujung jari telunjuknya
segera diarahkan tepat diatas lilinnya. Kilatan api lilin menjilat-jilat jemarinya. Demikian ia lakukan hingga pagi hari.


Ketika hari sudah mulai terang, ia antarkan sang gadis ke rumah sakit guna mendapatkan pertolongan medis. Tak lupa, ia kontak orang tuanya. Tak lama kemudian ayah sang gadis segera datang ke rumah sakit tersebut.


Singkat cerita, gadis itu menceritakan kebaikan sang pemuda. Ia ceritakan juga 'tingkah' sang pemuda sepanjang malam. Sang ayah mendengarkan cerita putrinya dengan seksama. Ia sangat mengagumi pemuda tersebut.


Terlebih setelah ia mengetahui bahwa sang pemuda tengah kuliah di Universitas Alexandria. Saat itu kebetulan ia menjabat sebagai Rektor Universitas tersebut.


Singkat cerita, sang ayah tertarik dan hati anak gadisnya pun kecantol. Menikahlah pemuda itu dengan putri rektor universitasnya.

***


Konon, seorang syeikh Al-Azhar menguji beberapa orang muridnya. Di akhir muhadharahnya ia menginstruksikan kepada mereka untuk segera mengumpulkan barang yang mereka sukai di kamar masing-masing. Tiap orang diberi waktu setengah hari.


Ada yang mengumpulkan kayu bakar, ada yang menimbun buku-buku, ada juga yang mengumpulkan berbagai jenis bunga. Waktu yang telah ditentukan beberapa detik lagi akan berakhir. Pada detik-detik terakhir itu seorang murid syeikh menampakkan diri. Sang guru bertanya: "Apa yang kau kumpulkan dalam kamarmu sehingga engkau hampir saja terlambat ?".


Sang murid dengan tenang menjawab: "Saya mencari-cari lilin. Saya baru mendapatkannya di sebuah tempat yang jauh". Senyum sang Syeikh mengembang. Ia kemudian bertutur.


Wahai muridku yang mengumpulkan kayu bakar, sesungguhnya engkau tak mau bekerja keras. Cenderung mencari yang termudah. Kau dapatkan kayu bakar disamping masjid lalu kau masukkan dalam kamar.


Sedangkan engkau yang mengumpulkan buku-buku, sadarkah dengan apa yang akan engkau baca di tengah kamar yang sangat gelap. Adapun muridku yang mengumpulkan bunga-bunga, sungguh idealismu berlebihan dan terlalu tinggi. Engkau menganggap hidup ini selalu indah penuh dengan bunga. Engkau lupa bahwa tangkai bunga itu ada yang berduri.


Sejenak ia memandangi muridnya yang datang terakhir. Ia kemudian berkata: "Sedang engkau wahai muridku, engkau menyadari betapi perlunya menyinari isi kamarmu sehinggga engkau berlari-lari mencari sebatang lilin".

***


Dua kisah di atas hanya sekedar gambaran dari ujung sebuah idealisme dan kekuatan mempertahankannya. Ikatan keyakinan yang kuat akan membuat seseorang memiliki self control (muraqabatullah). Ini terlihat jelas dari kisah pertama.


Kemudian ketika seseorang menyadari misinya sebagai pengemban risalah setelah para Nabi wafat, ia akan berusaha keras untuk menerangi hati-hati manusia. Maka ia akan mencari penerang tersebut. Kemudian menyampaikan cahaya 'lilin' ke segenap relung hati manusia.


Hal ini agar manusia disekelilingnya bisa berbuat sesuai bidangnya (untuk menegakkan kalimat-Nya). Baik sebagai insan akademis, praktisi hukum, pegawai kantor atau berbagai profesi lainnya. Semuanya bangga mengatakan: "Nahnu du'atun qabla kulli syai'" (kita adalah da'i sebelum kita memerankan posisi peran masing-masing).


Muraqabatullah dan menyadari tugas dakwah akan banyak membantu menyadarkan manusia secara kultur untuk memainkan peran khalifah di bumi ini. Allahu A'lam.


Friday, June 19, 2009

Cinta Itu Seperti Menunggu Bis Saja


Cinta Itu Seperti Menunggu Bis Saja



Sebuah bis datang, dan kau bilang, "Wah...terlalu sumpek dan panas, nggak bisa duduk nyaman nih! aku tunggu bis berikutnya saja"

Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan berkata, "Aduh bisnya kurang asik nih dan kok gak cakep begini... nggak mau ah.."

Bis selanjutnya datang, cool dan kau berminat, tapi dia seakan-akan tidak melihatmu dan melewatimu begitu saja.

Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang,

"Nggak ada AC nih, gua bisa kepanasan". Maka kamu membiarkan bis keempat pergi..

Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor. Ketika bis kelima datang, kau sudah tak sabar, kamu langsung melompat masuk ke dalamnya. Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis. Bis tersebut jurusannya bukan yang kau tuju!

Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama..

Moral dari cerita ini, sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar 'ideal' untuk menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita. Dan kau pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia.

Tidak ada salahnya memiliki persyaratan untuk 'calon', tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita. Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju. Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat.. tapi kau masih bisa berteriak 'Kiri !' dan keluar dengan sopan.

Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya bergantung pada keputusanmu. Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.

Cerita ini juga berarti, kalau kau benar-benar menemukan bis yang kosong, kau sukai dan bisa kau percayai, dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu, kau dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di depanmu. Untuk dia memberi kesempatan kau masuk ke dalamnya. Karena menemukan yang seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti. Bagimu sendiri, dan bagi dia.

Bis seperti apa yang kau tunggu?


http://www.dudung.net/artikel-bebas/cinta-itu-seperti-menunggu-bis-saja.html

Monday, June 15, 2009

Menjadi Hujan



Menjadi Hujan



Aku ingin menjadi hujan

karna gerimis yang dirindu

aku ingin menjadi hujan

karnanya senyummu hadir

aku ingin menjadi hujan

karena gemeritiknya

membuatmu diam termenung


karena katamu

ia mengajarkan banyak asa

karena katamu

dinginnya membuatmu lebih sahaja

karena membuatmu bisa mencium bau rerumputan


Sungguh,

menjadi hujan yang menyirami hatimu dengan keteduhan

hujan yang selalu kau nantikan

tuk melihat harmonisasi pelangi

hujan yang membuatmu mencintai Tuhan



Teruntuk semua sahabat

Saat khatulistiwa disapa hujan deras, hujan di bulan Juni…

15 juni 2009 pukul 14:00 WIB

Thursday, June 11, 2009

Bidadari hatiku


Bidadari Hatiku


Bidadari hatiku
pelita malam- malam sunyi
rembulan malam-malam pekat
cahaya terang bagi umat

Bidadari hatiku
tak terhenti cinta ini
tak senyap rasa kagum ini
gemuruh cita dalam tatapan mata
secercah asa dalam bilik-bilik jiwa

Ia lekat dengan kebersahajaan
sungguh cantik bukan hanya raga
tapi juga jiwanya
manis senyumnya terlebur dengan budi pekerti
wanita terindah pernah terangkai dalam mimpi


Teruntuk Ibunda Khadijah, Ibunda Aisyah, dan teruntuk kalian
Semua muslimah yang membuat saya terpesona karena kecantikan paras jiwa kalian,
Tempat saya menempa diri ^_^

Tuesday, June 9, 2009

Bicara CINTA…


Bicara CINTA…


Sebenarnya dari lubuk hati terdalam, aku begitu sungkan untuk menuliskan perihal ini. Sampai aku menulis kisah perbincangan ini, aku masih ragu. Membicarakan 5 huruf tersebut terlebih rasa yang bermuara pada sosok laki-laki bagiku adalah sebuah perkara sensitif dan ini introvert. Namun keinginan menorehkan pikiran menjadi kuat karena rasa CINTA sedang singgah di hati salah seorang teman.


Indikasi itu kubaca dari kata, wajah dan geriknya. Aku merasakan itu dari nya. Untuk bertanya, “Apakah engkau sedang jatuh hati, kawan?”aku sungkan. Namun beberapa hari kemudian akhirnya ia berkata jujur, kalau ia sedang menyimpan rasa itu pada seseorang.

“Wow”aku tersenyum. Ia tertawa.

“Aku merasa bersalah, karena telah menyimpan rasa ini” ungkapnya pagi itu diruang makan, setelah kami menikmati sarapan.

“Aku juga malu padamu” tambahnya. Kudengar baik-baik ungkapan hatinya, memasang kuping dengan seksama.

“Mengapa rasa ini harus hadir?” lanjutnya lagi dengan wajah sayu. Sedang aku hanya bisa menunjukkan senyum.

“Cinta itu fitrah”aku angkat bicara, sebuah kalimat klise.

“Mengapa mesti malu?”

“Hmmm…..aku benar-benar malu pada Allah, padamu dan diriku sendiri” kalimat itu di ulangnya.

“Lapangkan dadamu, jangan kau sempitkan”

“Maksudnya?” Ia bertanya sambil menatap wajahku dalam- dalam.

“Dada ini terasa sesak dipenuhi oleh suara-suara yang ingin ku teriakan, hmmm….”dia berdehem sambil menatap langit-langit rumah yang berwarna biru.

“Rasa itu anugerah” kubalas tatapannya.

“Hanya yang perlu dilakukan mesti pandai- pandai menata perasaan, waktu sedang jatuh cinta, jangan larut”

Lalu kami saling diam, bermain dengan pikiran masing- masing.

“Cinta itu melahirkan perbaikan watak”ku mulai bicara lagi.

“Maksudnya?”penasaran.

“Ketika rasa itu hadir maka seharusnya meningkatkan kadar taqwa kita pada Sang Pemilik cinta”

Ia mengangguk.

“Jangan lawan kehadirannya, namun cobalah bungkus rasa itu dengan rapi, arahkan pada sang Kuasa, kemudian tunjukkan dengan sikap- sikap kita”

Ia masih bingung.

“Bahwa seseorang yang mempunyai rasa cinta maka budi pekertinya menjadi halus, akhlaknya semakin baik” sambungku.

‘’Saking halusnya rasa cinta itu, hingga tak semua manusia mampu menterjemahkannya, pikiran mereka kacau, aku tak ingin“ia menimpali.

“Akhlaq yang tampil itu mungkin semacam bentuk rasa syukur karena telah di anugerahi rasa CINTA”

“Oh, aku mungkin belum mampu seperti itu”katanya sambil memperbaiki posisi duduk.

“Aku pun sedang belajar”jawabku.

“Jujur saja, kini hatiku serasa gersang karena rasa bersalah ini, kawan”

“Akan ada saat yang tepat nanti ketika engkaupun sudah merasa siap”lanjutku.

Ia kembali diam.

“Ku yakin engkau bisa, cuma memang perlu waktu.”

“Ya, mungkin juga tak semudah membalikkan telapak tangan”Aku mengakhiri.

Kami terdiam. Ku sunggingkan senyum untuknya.


Oh, Tuhan. Aku sedang menasehati seorang saudara, maka jadikan lisan ini dan akhlaqku juga begitu seharusnya. Seperti namanya “Jatuh Cinta” jatuh tentunya sakit, namun jika rasa itu bisa dimanajemen ia akan terasa indah dan tentunya muaranya adalah Sang Pemilik Cinta.


Wallahu’alam.

Nb: Saudaraku yang menjadi inspirasi, izinkan aku menuliskan ini ^_^

Thursday, June 4, 2009

"Cintailah Siapapun Orangnya"





                                          


Kala senja dengan rinai hujan


Ketika di perjumpaan terakhir kami, ia katakan mohon maaf atas semua kekurangannya dan  tentang segala kerepotan yang menurutnya ia bebankan padaku. Ia masih mengingat dengan baik semua hal yang katanya itu adalah kebaikanku, yaitu saat ia meminta untuk menemaninya membeli beberapa barang keperluan dalam rangka kepindahannya ke kota kelahiran karena diterima menjadi guru di sana. Itu adalah kali pertama aku jalan-jalan bersamanya setelah beberapa minggu kami berkenalan.


Kisah kami di episode tarbiyah cuma sepenggal, tak lama. Kalau dapat kuhitung hanya berkisar kurang lebih 4 bulan. Pernah ada tanya yang menggantung, " Mengapa Ia begitu berbeda dari sosok para murobbiku sebelumnya?" Dulu muatan materi benar-benar terasa menyentuh mentalitasku, mengerakkan semangat, yang setiap pulang dari jadwal pekanan itu aku selalu merasa mendapat beragam "oleh-oleh". Namun saat bersamanya aku seperti tak menemukan sesuatu yang kucari. Ah, barangkali hati kami belum tersambung, kupikir.


Namun saat terlontar kata-kata perpisahan darinya hari itu, kala senja dengan rinai hujan. Nuansa hatinya mulai dapat kurasa. Buliran bening yang hampir jatuh disudut mata segera kutahan karena sebelumnya ia meminta agar tak ada yang menangis di hari perpisahan kami. Aku menunduk, kesedihan menyergap. Ingin kutatap wajah murobbiku, mencoba menggali harta jiwa yang lain dari raut wajah putihnya.
Seketika aku mengerti, Ia adalah seseorang yang mengajari arti syukur serta mengajariku makna berkorban yang banyak. Ia yang sering berbagi cerita kehidupan, termasuk sesekali bercerita kisah hidupnya sendiri dengan tak sungkan pada kami, adik-adik binaannya. Ada saja pelajaran yang dapat kupetik. Cerita kehidupan yang ternyata membuatnya begitu berbeda dari para murobbiku sebelumnya. Bersamanya aku tumbuh.


“ Kakak pergi, akan ada yang menggantikan, cintailah siapapun orangnya,” ungkapnya. Ada pelukan yang begitu hangat dan erat darinya saat tiba giliranku bersalaman sambil mengatakan kalimat permohonan maaf yang masih sama. Pulang dari perpisahan itu hanya ada diam dan air mata sembari mengulas kenangan bersamanya. Kala senja dengan rinai hujan. Hari itu akhir perjumpaan kami.


VCY.

Tuesday, June 2, 2009

Syair : Tak Mengapa


Belajar menjadi Lilin...


Entah mengapa saya sangat menyukai syair "Tak Mengapa" mba Afifa Afra ini,

Menemukannya di catatan FB beliau, sang novelis yang juga saya kagumi.

Diperuntukkannya bagi teman-teman FB katanya diakhir syair,

Seperti ia karena aku pun ingin belajar menjadi lilin, memberikan apa yang ia punya..



Tak Mengapa
: Afifah Afra

: Untuk Seorang Kekasih

Tak mengapa kumenjadi lilin
Ia memang remuk dilahap cahaya
Yang ia pancarkan sendiri
Yang ia bagikan sendiri

Namun jangan kira ia telah hilang bentuk
Tidak, sama sekali tidak

Ia tak hilang
Ia tak musnah

Ia hanya menguar
Menjadi bentuk yang lebih lembut
Karbon yang menelusup ke sela-sela stomata
Menjelmalah ia senyawa
Yang kau hisab tanpa kau tahu
Bahwa aku telah memasukimu
Merasuk dalam detak jantungmu
Mengalir bersama urat nadimu

Aku menyayangmu
Lebih dari kumenyayang diri
Maka, usai kubagikan cahaya
Tak mengapa jika ragaku luluh
Karena dengan cara itulah
Aku menyatu dengan jasadmu
Meski tak kau sadari
Meski tak kau sadari

Aku ingin percintaan kita
Bak udara dengan manusia

: Bak udara dengan manusia

(Kemanfaatan itu mungkin tak dirasa
Baru ketika tiada menggusur ada
Manusia tiba-tiba kehilangan nyawa)

Dan tahukah, wahai engkau?
Jika kau anggap aku penebar cahaya
Aku tak mau menjadi lampu
Yang tak mau mengorbankan diri
Untuk ujud yang lebih lembut
Aku ingin menjadi lilin
Tak mengapa menjadi lilin
Karena keremukan itu
Akan membuatku
Menyatu dengan jasadmu
Tanpa kau tahu

Tanpa kau tahu
Tak mengapa kau tak tahu
Karena cukup bagiku
Yang Maha Tahu