Friday, July 31, 2009

Sepotong Senja


Sepotong Senja

Sepotong senja
senja yang masih sama
pada satu kata ; sendu
rasa kaku
kata ambigu
sepenggal catatan lama
yang pelan-pelan kita nyanyikan

waktu tenggelam
tiba-tiba aku tak bisa sembunyi
pada rindu ini
padaMU


Pontianak, 28juli2009
Menanti sepotong senja

Ku kenang episode kita

Ku kenang episode kita


Lelah ini hanya untukNYA
Dan biarlah letih kita hanya Ia yang tahu
Meski ada laut tetap bergelombang
Namun diseberang ada pantai harapan


Kini semua hanya kenangan yang disimpan atau sekali-kali mungkin akan ku urai jadi kisah. Pada kalian tempatku membangun semangat dan menguatkan tekad.

Masih lekat dalam ingatan pada dunia yang katanya kisah pengorbanan kita. Bangga, jelas aku bangga pada cita-cita agung kita, pada misi hidup kita, bahkan tak kuhiraukan kata-kata menghujam atau onak yang menghadang. Bagiku semuanya indah, indah pada semua sisi. Meski juga sering diri ini jatuh, kemudian bangkit. Toh kisah kita hanya itukan?? Kisah tentang jatuh dan bangkit.

Pertemuan-pertemuan kita gelar dalam rangkaian episode. Ada banyak naskah perbaikan digulirkan, “try and error” sudah menjadi santapan, berjibaku dengan polemik pun dirasakan namun semoga tak pernah membuat kita sombong bahkan seharusnya membuat kita semakin merendah dihadapan ALLAH dan di hadapan orang-orang beriman layaknya ilmu padi. Karna perjuangan ini atas izinNYA kawan, karnanya pun pengorbanan ini belum sebanding dengan darah para syuhada. Tak boleh ada bangga yang tak proposional, iya kan?

Bagiku semuanya untuk dikenang atau sekali-kali kan kurangkai menjadi pementasan drama dipikiran tentang semua kisah dalam berbagai peran. Meski pernah ada kecewa karena harapan yang tak bersambut, kemudian bertanya mengapa cita-cita kita tak berimbang? mengapa kata tak jadi laku? namun aku sadar bahwa setiap kita memberi sesuai kemampuan. Ah, kisah kita memang indah.

Akhir cerita ini bukan lah akhir kisah pengorbanan kita, karena tantangan lain masih menghadang, seperti kerja seorang pemintal benang yang tak boleh bosan menatap benang kusut. Tak kah kau rasa bahwa kian hari tantangan itu kian berat? dan membutuhkan manusia yang jauh lebih ksatria dari kita?

Kawan, banyak kenangan yang aku simpan dalam bunker jiwa ini. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai menjadi baik, dan sampai kapanpun tak boleh merasa cukup dengan apa yang telah kita capai. Semoga kalian tetap istiqomah, berharap dengan sangat kita masih dalam orbit yang sama sampai akhir hidup ini. Jazakumullah khairan Jazaa, karna telah mengajariku makna perjuangan dalam kosa kata yang benar.



Terima kasih lagi, yang kesekian ribu kalinya untuk kalian, ke-empat kawan saya.
Dalam episode “es jeruk”, dikampus oren kita.
Pontianak, 29 juli 2009
Di sebuah siang yang terik.

Tuesday, July 28, 2009

CURHATKU KEPADA-MU YA ALLAH.....


Kucintai Engkau dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu
Cinta karena diriku membuat diriku lupa pada yang lain Senantiasa menyebut nama-Mu
Cinta karena diri-Mu membuat diriku selalu memandang-Mu
Karena Kau kuakkan hijab
Tiada puji bagiku untuk ini dan itu
Bagi-Mulah puji dari penghuni semesta.

Ya Allah, Engkau Tuhan Yang Disembah..!
Kuatkanlah imanku dalam keadaan apapun
Dan janganlah Kau bolak-balikkan hatiku setelah Kau berikan hidayah-Mu

Ya Ghaffar, Engkau Maha Pengampun...!
Aku hanya mampu mengungkapkan secuil risalah-Mu
Namun, belum mampu mencegah kemaksiatan
Belum mampu menyentuh hati yang keruh.

Ya Hafizh, Engkaulah Maha Memelihara...!
Lindungilah aku dari kehancuran moral dan mendustakan agama-Mu
Jangan jauhkan aku dari Ramadhan-Mu
Karena di sanalah kutemukan muara tangisan umat-Mu
Jangan jauhkan aku dari si lapar dan si miskin
Karena di sanalah ku menemukan-Mu.

Ya Akbar, Engkaulah Yang Maha Besar...!
Betapa kecilnya diriku dibandingkan kebesaran-Mu
Aku tak mampu melihat kebesaran-Mu dengan mata kepala
Bukalah pintu hatiku agar ada ruang bagi kebesaran-Mu
Bukalah pintu hatiku agar aku dapat melihat rahmat-Mu

Ya Razzaq, Engkaulah pemberi rezeki...!
Niat telah kuikrarkan
Usaha telah kulakukan
Tenaga telah kukerahkan
Aku tak berharap kepada siapapun
Hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan
Bukalah pintu rezekiku...!

Ya Ghani, Engkau Tuhan Yang Maha Kaya...!
Ada orang miskin tak bisa makan enak karena tak ada makanan
Tapi tak sedikit orang kaya yang tak merasakan kelezatan makanan karena sakit

Ya Hakim, Engkaulah Yang Maha Bijaksana...!
Aku ingin menjadi orang yang bijaksana
Aku ingin menjadi orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Ya Alim, Engkaulah Tuhan Yang Maha Mengetahui...!
Berilah aku hikmah agar mampu melihat kebaikan-Mu
Berilah aku hikmah agar mampu menyelami tangisan dan impian saudara kami

Ya Jabbar, Engkau Yang Maha Kuasa...!
Kepunyaan-Mulah apa yang ada di langit dan di bumi
Jangan putuskan harapanku untuk menanti nikmat-Mu
Di tengah kesusahan hidupku ini.

Ya Qawi, Engkaulah Zat Yang Maha Kuat
Tanamkan kekuatan-kekuatan dalam hatiku
Agar aku tak menyerah pada kesulitan hidup
Agar aku mampu istiqomah dalam keyakinanku

Ya Matin, Engkaulah Zat Yang Maha Kukuh...!
Tanamkanlah kepercayaan diri dalam jiwaku
Agar aku tak merasa rendah di mata orang lain.

Ya Wasi, Engkaulah Yang Maha Luas
Ketika aku memberi kepada orang lain
Sungguh menambah pahala bagiku
Ketika aku membantu orang lain
Sungguh menambah kecintaan orang lain kepadaku.

Ya Qadir, Engkaulah Yang Maha Menentukan...!
Segala pikiran telah kucurahkan
Segala ikhtiar telah kulakukan
Suara hati telah kudengarkan
Sekarang tetapkanlah KETENTUAN-MU...!

Duhai Al-Amin
Allah Swt dan malaikat-malaikat bershalawat kepadamu
Shalawat kebajikan atas Al-Amin
Semoga orang yang bershalawat kepadanya selalu diberkahi.Amin!
Aku berdiri dalam tangisan diambang senja
Yang aku tahu kematian telah dekat
Namun, adakah surga akan mempertemukan aku dengannya...?

Makassar, 12 Ramadhan 1426 H
Nunuk


Nb.

Salam kenal teman,
Ada haru yang saya tahan,
dari sepotong senjamu, tentang rasa yang beralur tenang.

Dia memperkenalkan disaat kita berbeda dunia,
Semoga engkau bahagia disana, lelaki Senja...

Monday, July 27, 2009

Istana Kita


Istana Kita



Kisah istana kita
anyaman rasa kaya warna
rindu bertemu rindu
jiwa menggenggam jiwa

Wajah tak menyemai letih
tenang seperti langit dan bulan
tawa yang meramaikan
menggugur setiap kesedihan



28 juli 2009
12:00 am
Bertemu indah, berpisah pun indah


Sabar yang Tak Habis



Sabar yang Tak Habis



Ia adalah salah seseorang yang menjadi cermin hidup saya. Satu dari mereka yang mengajari saya banyak hal, dan tempat menggali kebaikan yang lain. Gaya bicara lembut dan sosok sederhana melekat padanya. Ada pelajaran berharga yang saya peroleh dari guru ngaji saya yang satu ini, yaitu nilai kesabaran yang lebih. Dalam sejarah umur saya baru kali ini menemukan seorang yang begitu sabar seperti dirinya, dalam keseharian hidupnya. Kesabaran yang sering tampak dimata saya ketika beliau menghadapi dua anaknya yang masing- masing berumur kurang lebih enam dan empat tahun.


Agenda pekanan yang kebanyakan berlangsung dirumah beliau disanalah tempat saya menyaksikan cuplikan demi cuplikan kesabaran hatinya. Beliau mempunyai anak lelaki sulung masih TK yang manja dan si bungsu yang sedikit kelaki-lakian. Satu diantara cuplikan kesabaran adalah seperti biasa jadwal rutin bedah buku dilaksanakan, dan biasanya untuk presentasi beberapa kami menggunakam laptop. Layaknya menemukan mainan baru, laptop bagi putra sulungnya adalah benda yang paling membuat penasaran dan antusias maka sudah dipastikan ceremony bedah buku ini sering terganggu olehnya. Ada-ada saja yang ia lakukan jika kami sedang presentasi, keyboard yang diutak atik, screen yang ditutup dengan tangannya bahkan kadang lagi sedang semangatnya presentasi benda ini diangkut dan dipindah posisikan olehnya. Kemudian saya hanya tergugu mendengar kalimat yang lahir dari mulutnya, “Anak sholeh, anak baik, jangan ganggu umi liqo, kan laptopnya mau di pake amah”atau dengan kalimat lain “Besok-besok amah ndak mau lagi minjamkan laptop kalau abang suka ganggu kayak gini” sambil menatap wajah anaknya dalam-dalam. Tapi beragam teguran yang lembut itu tetap saja tak dihiraukan Si sulung.


Ada lagi kejadian dari tingkah putri kecilnya yakni merebut buku materi yang dipakai ibunya untuk mengisi pengajian kami dan tak ingin ditukar dengan yang lain apa pun bentuk buku pengganti itu, atau saat Si sulung dan putrinya memperebutkan sesuatu hingga menyisakan tangis keduanya. Seringkali cuplikan yang sama berulang namun semua kerepotan yang dibuat kedua anaknya selalu dihadapinya dengan sabar tanpa pernah mengeluarkan nada keras serta kalimat kasar.


Ada air mata yang menitik dalam hati terdalam, saat membandingkan kesabaran saya dengan beliau. Sungguh, saya perlu banyak belajar dari beliau tentang sabar yang utuh. Bukan hanya menghadapi tingkah adik laki-laki kelas satu SD yang memiliki watak keras, atau menghadapi Indah, adik privat yang baru memasuki dunia TK dan sering menguras ide untuk merayunya agar tak bosan belajar, namun juga kesabaran ketika menghadapi ujian hidup yang sering hadir tanpa permisi.




Nb. Kepadamu, trima kasih tlah mengajariku beragam kebaikan. Rangkuman kisahmu belumlah sempurna kutulis dan belum selesai kubaca, namun cukuplah kesabaran hati yang mewakili kelebihan sikap yang engkau miliki. Semoga kita berpisah untuk bertemu di jannahNYA, Murrobbiku yang kucintai karna ALLAH.


Pontianak, 26 Juli 2009

6:25 pm di suatu minggu pagi.

Thursday, July 23, 2009

Lelaki Sholeh


Lelaki Sholeh


Ingin saya ingatkan tentang lelaki sholeh ini. Karna dihari kemarin air mata menitik ramai, termangu menatap cintanya yang begitu deras pada Tuhannya. Silahkan untuk mengatakan ini melankolik, karnanya pun saya tak memungkiri itu. Rasa melankolik yang membuat saya tersudut menahan rasa malu bertubi. Hingga hanya mampu menunduk dalam dan tak ingin mendongakkan wajah ini ke langit.


Saat malam larut seperti biasa seringnya saya bercengkrama dengan aufa, leptop saya. Mengutak-atik, membuka file-file, membaca e-book, menulis, atau hanya sekedar melihat-lihat foto-foto kenangan yang tersimpan didalamnya. Malam itu saya tersadar bahwa sudah beberapa pekan ini hanya menyempatkan beberapa menit untuk membaca. Kesadaran yang juga berawal dari sepekan ini saya membiarkan permasalahan mempengaruhi suasana hati, kemudian puncaknya timbul semacam perasaan tak enak begitu menghentak. Saya mencoba untuk berdialog dengan hati dan menemukan jawaban bahwa perasaan yang membuat jiwa saya ringsek adalah kemarau panjang ditelaga ruhi dan selanjutnya merasakan kehilangan yang mendalam.


Sambil ditemani salah satu instrumen ” Sgala Puji BagiMU” dari SNADA yang bernada slomotion kemudian saya buka folder “Pustaka koe” tempat menyimpan beragam tema e-book, mencari-cari judul buku yang saya harap dapat menjadi inspirasi juga untuk memaksa kesadaran saya pulang. Akhirnya saya memilih tulisan dari Alm.Ustadz Rahmat Abdullah salah seorang yang sangat saya gemari karya-karyanya. Buku “Untukmu Kader Dakwah”disanalah saya temukan lelaki sholeh itu dalam ingatan dialog yang sangat mempesona.


Inilah cuplikan dialog itu,

Satu episode perjalanan nabi Ibrahim AS. Imam Bukhari meriwayatkan :

“…… kemudian Ibrahim membawa isterinya beserta anaknya (Ismail AS) yang sedang

disusukannya, sampai ia meletakkannya di Baitullah di Dauhah, diatas Zamzam (yang

belum lagi muncul kala itu) di bagian masjid yang paling tinggi. Di Makkah waktu itu

belum ada manusia dan belum ada air. Ia letakkan mereka disana. Ia bekali mereka

dengan sekantung kurma dan sekantung air dan segera bergegas pergi. Ummu Ismail

mengikutinya sambil bertanya “Wahai Ibrahim, akan kemana kau pergi meninggalkan

kami di lembah ini tanpa siapa-siapa tanpa apa-apa ?”. Diucapkannya

kalimat itu berulang-ulang, namun ia tak juga menoleh. Akhirnya Ummu Ismail

bertanya : ALLAH kah yang menyuruhmu melakukan ini ?” Ia menjawab : “Ya”.

Ummu Ismail berkata : “jika begitu, tentulah Ia takkan sia-siakan kami”, kemudian ia

kembali dan Ibrahim berangkat. Sesampainya di tsaniyah (jalan tinggi di bukit) tempat

mereka tak lagi melihatnya, ia hadapkan wajahnya ke Bait Allah, berdoa dengan

beberapa kalimat dan mengangkat kedua tangannya :

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di

lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah)

yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat,

maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah

mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.


Lihatlah, betapa lurusnya keluarga ini memandang perintah ALLAH. Betapa ringannya mereka melaksanakan titah agung ini. Mereka utamakan ketaatan daripada kesenangan pribadi. Dari ketiga permintaan, ternyata yang pertama dimintanya agar keturunannya menjadi penegak shalat, kemudian untuk menopang da’wah ia minta mereka dicintai ummat manusia, barulah permintaan ketiga agar ALLAH memberikan mereka rezki. Padahal keadaan sangat sulit ; tak ada sanak, kerabat bahkan manusia, tak ada air dan sumber makanan. Hanya mereka berdua ; seorang perempuan yang baru melahirkan dan bayi kecil yang baru beberapa belas atau beberapa puluh tahun kedepan diangkat menjadi rasul.

(Rahmat Abdullah)


Ada haru menyelusup dalam dada, ada buliran bening membanjiri wajah saya. Sungguh kesholehan ini sangat tak berari bila dibandingkan dengan sholehmu wahai lelaki, bapak para Anbiyya…


Bahkan hanya setitik pasir pun mungkin tak mampu keyakinan ini di bandingkan besarnya yakinmu, Wahai Ibrahim ‘Alaihi salam, juga padamu Ummu Ismail, ibunda Siti Hajar.


Dalam kemiskinan amal terkadang kita masih sempat-sempatnya berbangga diri, menjadi seorang yang sombong, masih terus melakoni peran Fir’aun dalam wajah berbeda. Akhirnya malam dan airmata menjadi saksi dalam penyesalan yang mendera.


vitha

Tuesday, July 21, 2009

Atas Berjuta Rindu II



Atas Berjuta Rindu II



Kau tahu rasa kehilangan?

ia adalah pahit

menyesakkan

menyengsarakan

menghentak perasaan


Buru saja angan

kan bertemu jua fana

tanya saja semesta

garis kematian sudah siaga


Jangan pura-pura menakar cinta

sedang rindu pun tak ada

jangan bercerita kisah asmara

sedang bukti pun tiada


Segerakan alunan rindumu

dalam simfoni yang menggebu

hadirkan orkestra obsesimu

agar nyanyian cintaNYA menyatu


Pontianak, 20juli2009

12: 50 am

Rasa kehilangan itu pahit.


Friday, July 17, 2009

Hilang


Hilang


Kini kebebasan itu menjelma burung terbang
menuju langit harap berkabut
lelah
teriak
serak
dalam balutan ketidakmengertian
menyaputi logika

percayalah ketidakmungkinan
jangan catat sisa cerita
tinggalkan lelap tak berujung
karena sunyi bertemu sepi


Sebuah jum’at, 17juli2009
Pagi menuju siang
10:00

Tuesday, July 14, 2009

Atas Berjuta Rindu


Atas Berjuta Rindu


Gerimis luruh di dada

kala taqwa tak ada

dzikir tak lagi bernyanyi

tangis yang mulai sepi


lelah hati menyusun rasa

pada semua fatamorgana

Karnanya pun aku tak ingin jauh

meninggalkanMU lebih lama


Tuhan,

pintaku kekalkan rindu ini padaMU

dalam dada sesak berdebu

dalam jejak langkah menyatu

dalam riuh putaran waktu




Pontianak, 13 juli 2009

12: 00 am

MemelukMU kembali,

Sunday, July 12, 2009

Jari dan Masalah


Jari dan Masalah

Di sebuah desa, hiduplah seorang pemuda. Usianya belumlah genap 20 tahun. Namun sayang, kehidupannya sangat merana. Selalu saja ada banyak kesulitan yang dihadapinya. Usahanya sering gagal. Tak banyak yang bisa dilakukannya selain merenungi nasib. Ia bertanya dalam hati, mengapa ada beribu masalah yang selalu ada di sekitarnya.

Suatu ketika, ia mendengar ada seorang bijak yang dapat membantu mengatasi setiap persoalan. Kabarnya, orang tua ini selalu berhasil menolong setiap orang yang datang kepadanya. Sang pemuda pun tertarik untuk datang dan mencari jalan keluar bagi masalah yang di hadapinya. Segera saja di persiapkan bekal untuk melakukan perjalanan menuju ke tempat orang bijak itu berada.

Seharian penuh ia berjalan, hingga sampailah di pinggir hutan. Hari sudah malam, ketika akhirnya ia menemukan rumah yang dicarinya. Setelah mengucapkan salam, masuklah sang pemuda dan bertemu dengan orang yang di harapkan menjadi penolongnya. �Mari masuk�silahkan duduk,�, terdengar jawaban dari dalam.

Dengan penuh harap, pemuda itu pun mulai menceritakan masalah yang dihadapinya. Ia berkisah tentang pekerjaannya yang gagal, kawan-kawannya yang memusuhinya, juga semua masalah-masalah lainnya. Sang orang tua, mendengarkan dengan seksama, bersungguh-sungguh untuk memahami pemuda itu.� Setelah beberapa lama, usailah ia menyampaikan semuanya. �Lalu, apa yang harus aku lakukan,� tanya pemuda, �apa yang sebenarnya aku hadapi, dan apa masalahku?�

�Anak muda, maaf, aku tak bisa sepenuhnya menolongmu. Aku hanya bisa menunjukkanmu suatu hal.� Orangtua itu kemudian menuju jendela, dan membukanya lebar-lebat. Di luar sana, tampak langit yang gelap gulita. Lalu, diacungkannya jari telunjuk, seperti menunjuk ke atas, ke arah jendela itu. �Nak, lihatlah jari telunjukku, ada berapa jari yang kau lihat?

Pemuda itu segera menjawab, �tentu saja, hanya ada satu!�. Kemudian, orangtua itu berpindah, sambil menutup jendela, dan mengacungkan telunjukknya ke arah dinding. Ia lalu bertanya, �Sekarang, ada berapa jari yang kau lihat?� Sang pemuda, tampak memicingkan mata. Tampaklah tangan dan jari telunjuk yang teracung, dengan latar belakang dinding yang putih. Ada bayang-bayang yang tampak disana. �Lihatlah lebih jelas, jatuhkan pandanganmu ke belakang, ada berapa jari yang kau lihat.�

�Sebentar, aku melihat,� ada satu�.eh, dua jari yang ku lihat.� Bagaimana ini bisa terjadi? Ternyata, dinding yang putih, memberikan nuansa yang berbeda dalam pantulan benda. Ada fenomena lain yang membuat jari itu tampak tak seperti aslinya.�

�Anak muda, itu hanya nuansa bayangan dari jari ku saja. Setiap benda akan terlihat berbayang� ganda jika diletakkan pada dasar yang putih. Engkau pun akan melihatnya ganda jika melayangkan pandanganmu jauh ke belakangnya, dan tidak terpaku pada benda itu saja. �Dan sama halnya dengan semua masalahmu. �Sesungguhnya, dalam setiap masalah, kadang, bukan pemecahanlah yang harus kita cari. Tapi, kemampuan untuk melihat masalah itulah yang kita perlukan.

�Kadang kita sering terpaku hanya pada masalah itu-itu saja, tanpa pernah membiarkan kita melihat sisi lainnya. Cobalah layangkan pandanganmu ke belakang, pada jarak yang berbeda pada setiap masalah, engkau akan menemukan bukan hanya satu, tapi dua atau tiga hal yang terlihat. �Anggaplah jari telunjukku sebagai semua masalahmu. Dan dinding itu sebagai pikiranmu. Maka, engkau akan dapat melihat sosok suatu masalah, dengan jelas, pada dinding yang putih, pada pikiran yang jernih. Engkau akan mampu melihat dengan lebih jelas apa yang kau hadapi pada pikiran yang tenang, bukan pada latar yang gelap dan penuh amarah.

�Tataplah semua masalahmu itu dalam pandangan jernih, tenang, dan bersih. Teliti setiap sisi persoalan hidupmu, dengan hati yang suci. Susuri dan pahami setiap aral di depanmu, tidak dengan pandangan yang gelap gulita. Pahami dan maknai semuanya. Saat engkau memahami apa yang sedang kau hadapi, maka engkau akan mudah mengatasinya. Setiap persoalan, mungkin� terlihat seperti satu hal saja, namun sesungguhnya hal itu mempunyai sisi lain yang tak terungkap, hingga kita mampu melihatnya dengan pandangan yang jernih.�

***

Teman, bisa jadi kita mau mencoba hal ini. Acungkanlah jari kita ke dinding yang putih. Pandanglah, dengan tatapan jauh ke belakang jari itu. Kita akan menemukan ada pantulan yang berbeda dari jari-jari kita. Kita akan melihat, tak hanya ada satu jari yang terlihat, tapi dua, atau bahkan lebih. Mungkin dalam teori optis, kita akan menemukan penjelasan yang ilmiah dan akademis. Namun fenomena ini akan mengajarkan kita satu hal: Suatu masalah, kadang akan tampak lebih jelas kita menatapnya dengan pandangan jernih dan jauh ke belakang.

Allah memang Maha Pencipta. Allah selalu memberikan hikmah dan pelajaran dari setiap apapun yang diciptakan-Nya. Tak terkecuali lewat jari dan pandangan tadi. Kemampuan kita untuk melihat suatu masalah, akan sangat membantu kita dalam memecahkan masalah itu. Walau kadang, pemecahan masalah itu, adalah berupa kemampuan kita untuk melihat masalah dengan lebih jernih dan tenang. Serta dengan memahami, apa sebenarnya masalah yang kita hadapi itu.

Perlunya Pengetahuan Hidup bagi Wanita

Perlunya Pengetahuan Hidup bagi Wanita
oleh : Iswanti

Saya pernah membaca kisah seorang wanita pengusaha yang memulai usahanya dari nol. Uniknya si ibu muda ini dulunya pernah mengenyam bangku kuliah sebuah universitas swasta terkenal di Jakarta. Semasa kuliah ia aktif dalam salah satu organisasi di kampusnya. Setelah menikah ia tinggalkan semua aktifitas di luar, karena sang suami yang seorang pengusaha menginginkan ia menjadi seorang ibu rumah tangga sejati yang hanya mengurusi rumah tangga dan anak-anaknya.

Kisah usaha ibu muda ini berawal dari kegagalan usaha sang suami yang berujung pada kebangkrutan. Sang suami saat itu mengalami depresi karena kegagalannya tersebut. Melihat kondisi seperti itu, wanita tegar ini langsung berinisiatif untuk menghidupkan kembali salah satu usaha milik suaminya. Saat itu yang masih mereka punyai hanya beberapa unit mesin jahit bekas usaha konveksi suaminya.

Dengan semangat ia mulai mempelajari teknik membuat pola dan menjahit hingga akhirnya ia bisa membuat sebuah blazer yang kemudian ia jajakan contoh jahitannya itu dari satu toko ke toko lain di sebuah pasar di Jakarta.

Awal usahanya ini memang berat, toko-toko yang ia datangi menolak contoh jahitannya itu. Beberapa hari kemudian akhirnya sebuah toko bersedia menjual blazernya. Dan ternyata kegigihannya membuahkan hasil; blazernya laku keras, orderan pun mengalir deras, hingga akhirnya ia bisa mempekerjakan banyak karyawan, memperbesar usahanya dan tentu saja berhasil menyelamatkan biduk rumah tangganya yang hampir karam.

***

Baru-baru ini ada kisah menarik tentang seorang ibu muda berusia 34 tahun asal Wonocolo Surabaya. Ia adalah seorang pengusaha mikro lulusan sekolah menengah atas. Pada tanggal 18 November yang lalu ia menghadiri sekaligus berbicara di Ruang Konferensi II Markas Besar PBB setelah memenangi lomba Micro Credit Award 2005 yang diselenggarakan oleh Kantor Menko Perekonomian. Ia berada di forum internasional yang dihadiri 250 delegasi negara anggota PBB itu untuk menghadiri pencanangan Tahun Kredit Mikro Internasional 2005.

Penuturan ibu muda berputra tiga orang ini tentang usaha kecilnya mengundang decak kagum siapa pun yang hadir saat itu. Ia tidak hanya telah berhasil mengembangkan usaha membuat pakaian, tas, aksesori, dan barang kerajinan dari kain atau percanya yang diawalnya pada tahun 1998 dengan hanya bermodalkan uang 500 ribu rupiah itu dengan secara profesional tapi juga ia telah berhasil membina dan memberdayakan para pekerjanya yang 80 persen adalah tuna daksa.

Atas hadiah yang diterima, ia mengatakan uang itu akan digunakan membangun paviliun guna menampung para tuna daksa dan remaja putus sekolah yang dilatih di rumahnya, karena selama ini para pekerjanya tidur di setiap celah yang ada di rumahnya.

***

Seperti kata Ibu Dewi Sartika, salah satu Pahlawan Emansipasi Wanita Indonesia, bahwa wanita harus mempunyai pengetahuan untuk hidup. Perkataannya itu keluar sebagai kesadarannya yang timbul setelah bapaknya yang seorang patih di Bandung meninggal dunia, dan kekayaan keluarganya disita oleh pemerintah Belanda. Saat itu usianya masih belasan tahun, tapi Dewi sartika dan ibunya harus berjuang untuk hidup.

Ya, wanita memang harus mempunyai pengetahuan untuk hidup. Ada kalanya kehidupan datang tidak seperti yang kita inginkan. Seperti kejadian ibu muda di atas yang tiba-tiba harus berjuang menyelamatkan rumah tangganya. Beruntung si ibu ini pernah mengenyam pengalaman berorganisasi sehingga pada dirinya sudah tertanam keterampilan interpersonal yang baik juga semangat untuk berjuang dan belajar. Bagaimana halnya jika hal ini terjadi pada wanita yang selama hidupnya serba lancar-lancar saja, maksudnya belum pernah mengalami terpaan hidup? Bisa jadi ia pun bisa menjadi penyelamat biduk rumah tangganya, tapi bukankah sesuatu yang datangnya tiba-tiba akan memberikan goncangan jiwa yang tidak bisa dianggap enteng?

Banyak para suami, karena terlalu sayang pada istri, tidak mengizinkan para istri untuk bekerja. Hal ini memang bisa dipahami karena suamilah yang bertugas mencukupi kehidupan keluarga. Tapi alangkah baiknya jika para suami pun memberikan keterampilan hidup bagi para istrinya atau memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya sehingga istrinya bisa memiliki peranan tidak hanya dalam rumah tangganya saja tapi juga peranan dalam membina lingkungan masyarakatnya seperti halnya ibu muda pengusaha mikro yang saya ceritakan di atas.

Ada juga wanita yang setelah anak-anaknya tumbuh dewasa, baru bisa membantu finansial keluarga ataupun turut aktif dalam mewujudkan keshalehan sosial di lingkungannya. Selama masa-masa membesarkan anak-anaknya, dia tidak pernah berhenti belajar sehingga ketika saatnya tiba dia bisa berperan lebih.

Memang sulit bagi wanita zaman sekarang untuk berperan ganda. Di zaman yang penuh tantangan ini tidaklah mudah mendidik anak sementara dia juga harus aktif di luar rumah, seperti bekerja ataupun aktif dalam kegiatan masyarakat. Jangan-jangan sukses di luar tapi anak-anaknya mengalami degradasi moral akibat kurangnya perhatian orang tua yang sibuk bekerja. Hal ini dikembalikan kepada istri dan sang suami karena ternyata tidak sedikit keluarga yang istrinya bekerja tapi bisa mengantarkan anak-anaknya menjadi pribadi yang mandiri dan berakhlak baik.

Ada baiknya kita renungkan kembali perkataan Ibu Kita Dewi Sartika juga pengalaman sebagian wanita �petarung�, seperti cerita wanita di atas, tentang pentingnya wanita memiliki keterampilan hidup sejak dini, agar di saat yang tepat mereka mampu berperan lebih dan tampil mandiri tanpa harus merepotkan orang-orang di sekitarnya di saat-saat biduk rumah tangganya berada pada kondisi gawat darurat.



Tuesday, July 7, 2009

Marahlah secara benar...

Marahlah secara benar

Apa pula ini? Masak marah aja ada aturannya. Emang sih kamu berhak meluapkan amarah, tapi dalam banyak situasi ada batasan-batasannya.

Misalnya, kurang menguntungkan bila kamu marah-marah di depan kelas. Bahkan meskipun kamu merasa benar dan dapat menunjukkan semua bukti dan argumen yang mendukung. Soalnya, orang lain akan cenderung berisikap defensif dan parahnya bisa berkembang pada keinginan balas dendam. Demikian dituturkan Dr. Sandra Thomas, R.N, Ph.D seorang peneliti perihal amarah dan direktur Center for Nursing Research di University of Tennese, Knoxville.

Asal tahu aja, tidak hanya etika sosial budaya menyebabkan kita kudu membatasi rasa marah tapi masalah kesehatan juga ikut berperan. "Ketika marah, tubuh kita mengalami berbagai perubahan fisiologis, karena amarah memicu reaksi melawan atau lari," kata Christopher Peterson, PhD, pengarang Health anda Optimism dan dosen psikologi di University of Michigan, Ann Harbor.

"Kadar adrenalin meningkat, jantung berdegup lebih kencang, napas memburu dan dangkal, pencernaan berhenti," imbuhnya. So, sering marah-marah bisa mengingkatkan reriko pernyakit jantung, tekanan darah tinggi dan penyakit-penyakit mematikan.

Malah dalam penelitian terakhir para dokter di Universitas of North Carolina, mereka menemukan orang yang temperamental (pemarah) memiliki tiga kali resiko terkena penyakit jantung yang akut dan fatal. Hasil ini didapat sewaktu mereka meneliti sebanyak 13 ribu orang di North Carolina selama enam tahun.

"Semua emosi mempunyai pengaruh tertentu kepada cara berpikir kita. Tapi emosi-emosi yang kuat dapat memperlambat kemampuan penalaran, kemampuan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan kita," kata Dr. Mara Julius, Sc.D, ahli ilmu epidemi psikososial di Univesity og Michigan School of Public Health yang telah lebih dari 20 tahun mempelajari cara mengatasi marah yang berpengaruh pada kesehatan laki-laki dan perempuan.

"Ketika kamu merasa marah atau terbelenggu oleh dendam, semua itu menjadi beban. Pada sebagian orang , ini memperlambat proses berpikir dan pada sebagian yang lain bakal menghentikan proses berpikir sama sekali," sambungnya.

Cara Marah yang Benar
Bila perasaan marah kamu ditangani secara benar, menurut Dr. Julius, kamu bakal terhindar dari masalah-masalah hubungan sosial dan kesehatan. So, di bawah ini adalah cara marah yang bener.

1. Cari tempat aman.
Carilah tempat "aman" untuk meluapkan marah kamu. Caranya, sebelum kamu ngomong ama orang yang bikin kamu jengkel, bicarakan dulu ama orang yang kamu percaya. Pilih teman dekat, pacar, atau seseorang yang kamu percayai untuk mengungkapkan perasaan marah Anda. Soalnya, kalau kamu nekat nglabrak malah bisa nambah masalah. Dan ujung-ujungnya kamu tambah mangkel, jengkel dll.

2. Dekati orang yang bikin kamu marah
Setelah rasa marah kamu reda, bicaralah pada orang yang menjadi "sumber masalah". Ini penting untuk membuat jernih semua permasalahan. Awali pembicaraan, misalnya dengan, " Tindakan atau perkataan kamu, mengganggu perasaanku. Ada yang kudu diluruskan dan dibicarakan. Apa kita bisa membicarakan ini dengan baik?"

3. Kenali hal-hal yang jadi penyebab kemarahan kamu.
Temukan akar masalah untuk menemukan faktor pemicunya. Pasti ada hal-hal tertentu yang biasanya mendasari reaksi marah kamu. Bila tidak berhasil, mulailah mencatat ketika reaksi-reaksi marah itu timbul dan menulis pengalaman-pengalaman amarah kamu. Cara ini bakal memberikan kamu kesempatan untuk mempelajari segala sesuatunya dan bereaksi lebih rasional. Akhirnya, kamu bakal merasa mampu mengendalikan diri dengan menghentikan konfrontasi langsung.

4. Temukan cara melepaskan diri.
Kalau kamu mudah naik darah, ada anjuran agar menggunakan energi yang meluap-luap itu secara positif. Misalnya menggunakan energi itu untuk kegiatan fisik. Seperti jogging atau olah raga lainnya. Soalnya olahraga menyalurkan adrenalin lebih positif ketimbang membiarakannya larut sendiri. Dan kamu pun dapat menjernihkan pikiran untuk sementara.

5. Atur Nafas
Ketika diselimuti kemarahan, cobalah mengulur waktu untuk menenangkan diri. Kamu bisa pergi sejenak dari situasi tersebut. Carilah tempat sepi dan lakukan semacam meditasi dengan menarik nafas dalam-dalam. Setelah pikiran tenang, baru kamu kemukanan apa yang ingin kamu katakan. (dari berbagai sumber)

--------- percikan-iman.com

Sunday, July 5, 2009

THE RAIN IN JUNE


THE RAIN IN JUNE


Nobody resolute
Rather than the rain in June
Its yearning-drizzle is hidden
To the tree which has bloom

Nobody wise
Rather than the rain in June
His footprints is erased
Which hesitant in the way

Nobody skillful
Rather than the rain in June
The unspoken thing is ignored
Absorbed by the root of the flower tree


By : Sapardi Djoko Darmono


Saturday, July 4, 2009

Jangan


Jangan

Malam, dan hujan yang luruh

mari baca rahasia demi rahasia cinta kita untukNya

Jangan, jangan biarkan alpa ini jadi nakhoda pelayaran, jangan

jangan padamkan cahaya iman penerang perjalanan, jangan

karna dalam riwayat hitam kita, IA masih memberikan hujan ampunan



4 JULI 2009
Malam dalam hujan yg luruh dan dada yang berdebu...

Friday, July 3, 2009

Menanti pertemuan




Menanti Pertemuan


Ajaklah hati berdamai pada keluasan cintaNYA
tuk menggugur gerimis demi gerimis
meski ada cinta lain yang selalu sulit dibaca



pun pada nama yang menjadi rahasiaNYA sendiri



karena ada pertemuan yang bukan kelabu
bahkan tak cuma waktu, semesta pun berkata:

Seseorang yang tepat sedang menunggumu


2 juli 2009
19:00 am

Wednesday, July 1, 2009

Hujan




Hujan


Satu fenomena alam yang tak pernah bosan untuk saya nikmati adalah hujan. Klasik mungkin, karena juga bukan hanya saya yang menyukai hujan. Tak juga bisa dikatakan “Rainy Holic” namun entah mengapa peristiwa hujan selalu saja bisa membuat catatan tersendiri dalam hati. Setiap kali rintik dan tetesan airnya turun menyentuh bumi setiap kali pula mampu membuyarkan konsentrasi saya dan akan mengalihkan perhatian padanya meski hanya sekilas.


Bagi saya setiap ciptaanNYA adalah stasiun-stasiun pemberhentian tempat mengambil pelajaran. Demikian juga hujan, ia adalah ruang yang Tuhan berikan untuk berfikir, merenung, dan menempa diri. Hujan adalah nikmat yang luar biasa bagi setiap manusia, karena ia penyokong keseimbangan hidup dibumi. Banyak makna yang saya dapat dari kehadirannya


Kadang dengan hujanlah IA mengembalikan kesadaran saya. Saat tetesan air itu berubah menjadi aliran yang menggenang jalanan hingga akhirnya ia kan menguap dan menghilang. Begitulah ketidakkekalan, semuanya kan musnah dan apapun yang dicintai pasti kan berpisah jua dengannya. Harta, kemewahan, seseorang, paras tampan maupun cantik, semuanya tak abadi.



Itulah salah satu keunikan pelajaran hujan yang saya temui. Mengajari kita untuk tidak mencintai yang fana dengan rasa lebih. Karena apabila kehendakNya tiba tak satupun dapat menghalanginya.