
“JIKA JIWAMU KOSONG, BERADA DIGEMURUH PERANGPUN TAK KAN PERNAH TERUSIK. PERCIKKAN SAJA AIR, LALU DIAM DAN RESAPI, SEPI JUGA KEHIDUPAN KOK”
Dua baris kalimat yang diucapkan seorang teman kepada saya tersebut membuat saya berfikir sejenak. Ia benar menurut saya, bahwa sepi juga adalah bagian dari kehidupan. Seperti setiap hal yang Tuhan ciptakan dalam kehidupan ini berpasang- pasangan. Malam dan siang, suka dan duka, benci dan sayang, sedang ramai pasangannya adalah sepi.
Salahkah rasa sepi itu? saat lebih suka menghabiskan waktu dirumah dari pada berada ditengah- tengah orang yang tak dikenal dan tak membiarkan kegaduhan memenuhi gendang telinga. Dirumah sendiri, jalan- jalan sendiri, atau pergi ke pusat keramaian hanya sendiri. Ada hari- hari yang menyenangkan saat menikmati riak pikiran dalam keheningan untuk melupakan kesibukan sehari- hari. Menekuri setiap tarikan nafas yang kadang lupa disyukuri dan mendapatkan banyak pertanyaan dalam kesendirian meskipun tak menemukan jawaban. Tak ada yang salah dengan rasa sepi atau lebih memilih kesendirian namun juga tak selamanya boleh melarikan diri dari keramaian.



