Thursday, December 29, 2011

sebuah catatan akhir tahun #Jeda





Di sini, dua jam sebelum tengah malam, angin berhembus dengan tenang. Sisa hujan senja tadi telah membuat udara lebih dingin. Aku bermain dengan pikiranku yang letih. Hal yang sama seperti yang pernah kukatakan kalau aku tak perlu menghitung untung maupun rugi jika orang lain mengetahui bahwa diri sedang lelah. Dan ini adalah jeda bukan sebuah keluhan tapi untuk menilik diri lagi atau mencari-cari sesuatu yang hilang di dasar hati.


Kali ini aku beranggapan kalaupun ada mendung, ada kesedihan, tak perlulah aku memusingkannya. Sebab belakangan akhirnya aku banyak belajar untuk menikmati tiap emosi. Sedih. Senang. Bahagia. Kecewa. Menangis. Tertawa. Karena sebagai manusia biasa tak kan mampu untuk sedih sepanjang hari atau terus tertawa tanpa jeda. Emosi-emosi itu tentu akan terus berganti karena kekuasaan Allah yang menciptakan semua dengan sempurna.


Maka ketika bahagia, ada ruang untuk bersyukur serta ketika sedih ada pembelajaran dan ujian agar tidak larut dalam kesedihan. Bahkan belajar memberi batas waktu kapan kesedihan itu berakhir lebih-lebih jika ternyata darinya kita mendapat pemahaman atau hikmah yang begitu berharga, nah ujung-ujungnya timbul rasa syukur lagi, subhanallah walhamdulillah (terlalu panjang ya ^^ ).


Di dua jam sebelum tengah malam, kemudian aku meraih buku mimpi kembali. Membuka halaman perlahan. Membaca ulang sejumlah mimpi yang kutulis. Terlepas dari rasa bahagia disebabkan ada beberapa mimpi yang sudah kucentang terwujud dan deretan mimpi yang masih belum bertemu waktu. Lagi-lagi aku sedang menasehati diri karena menasehati diri jauh lebih sulit dari menasehati orang lain, bukan?


Sungguh tak ada yang perlu dicari di dunia ini melebihi ridhoNya,
hingga memastikan harus ada keselarasan dengan keinginanNya dibalik semua mimpi. Kemudian terbangkan semua mimpimu ke langit dan jadilah seseorang yang penuh rasa sabar serta syukur karena semua itu…
Semangat!
^_*


#menjelang akhir desember 2011
VCY, sisiungu.

Sunday, December 18, 2011

HIATUS dulu ya...



Pengen hiatus :)
Kalau ditanya alasan, intinya lagi ingin mencari musim di tempat lain, khususnya di dunia nyata  Ditambah ada beberapa mimpi yang ingin saya gapai. Mimpi ke satu, mimpi ke 2, mimpi ke 3 dan seterusnya..salah satunya yaitu membaca deretan buku yang saya targetkan untuk beberapa bulan ke depan. Hal lainnya kadang-kadang dunia blogging membuat saya jarang bersosialisasi di dunia nyata.


Btw, mengingat lagi kalau dulu pernah hiatus dan bertahan cuma 2 minggu (he..) sebab pekerjaan paling mudah bagi saya adalah menulis. Jika bosan dengan aktivitas lain saya akan beralih ke nulis, waktu 5-10 menit sudah jadi satu tulisan. Bagus atau jelek. Ada yang baca atau tidak. Tak terlalu saya pikirkan :)


Yups, hiatus. Khususnya untuk posting. Sesekali hanya untuk blogwalking dan googling. Mulai hari ini apa yang saya dapatkan dari jalan-jalan, berfikir, saya lihat dan rasa sementara saya simpan dulu. Entah sampai kapan. Tentunya sampai saya merasa perlu untuk kembali ke rumah sisiungu ini. Berbagi apapun yang saya bisa dan ingin.


#desember’11
VCY, sisiungu

Saturday, December 17, 2011

Padi atau Ilalang

saat aku bertemu dengan orang-orang yang begitu fasih bicara
dan memiliki pemahaman berfikir yang mengesankan
namun akhlaq tak sama baiknya dengan akal dan logika
lisan seolah pandai tapi sikap seringkali menyakiti
aku merenung, melihat ke dalam diri sendiri
mungkin aku tak ada ubahnya dengan mereka


saat aku bertemu dengan orang-orang yang begitu baik
tak ada mata kepura-puraan
tak perlu mengambil keuntungan dari kebaikan yang ia berikan
karna yakin Tuhan punya penglihatan menembus hati
aku diam memuji,
alangkah indah kalau punya hati yang senantiasa ringan memberi


kadangkala aku cuma diam jika bertemu orang-orang itu
lalu pikiranku seolah menelusur sebuah lorong panjang
betapa kehidupan adalah tempat belajar
untuk memilih ingin menjadi padi atau ilalang



#desember’11
VCY, sisiungu.

Monday, December 12, 2011

Jeda


Kali ini teman..
aku tak kan menutupi kesedihan atau tak begitu peduli untuk memperhitungkan untung dan rugi saat ada airmata mengapung di pelupuk lalu diketahui orang lain. Di jeda ini aku merenung hidup sudah sedemikian lama namun di lain hari aku menyadari tak punya banyak waktu. Ya, aku sedang memantaskan diri  disetiap keadaan dan seolah mengalami banyak kesempatan namun telah kusia-siakan baik itu untuk kebaikan dunia maupun kehidupan abadi kelak.


Seperti saat aku menuliskan ini, tiba-tiba merasa lelah kemudian ada hati yang berderit mengingat kuat-kuat bahwa tempat pulang sesungguhnya adalah kampung akhirat. Menasehati pula pada diri sendiri yang tak pernah benar-benar menyadari bahwa maut akan menjemput untuk memutuskan segala nikmat.

Saturday, December 3, 2011

Musim


Bila musim sedang berganti, maka sama sekali tak akan ada alasan yang pernah pantas
untuk membandingkan bahwa musim ini lebih baik,
ataupun lebih buruk daripada musim sebelumnya
(Seorang teman, Joe)


Jika musim kering datang adalah keindahan bisa menatap takjub daun-daun jatuh serta dahan-dahan yang teduh. Pun adakalanya aku rindu berjalan di atas lintasan trotoar yang menenggelamkanku pada sore yang lengang kemudian menyaksikan kelopak-kelopak mawar merah yang tumbuh di halaman depan sebuah rumah berpagar coklat muda. Lalu di malam hari walau suhu panas masih terasa, aku dapat menatap berulang-ulang bintang berpendar terang seolah memberi banyak kegembiraan saat aku sedang menyimpan kesedihan sampai hati menghangat kembali.


Namun di awal desember ini, meski tak selalu terlihat warna-warna pelangi belakangan air dari langit terus-menerus tumpah. Biarpun begitu, aku tetap tak suka merutuki musim karena ia sudah seringkali menghibur. Hujan telah menyebabkan segaris senyumku hadir ketika curahnya membuat sepatu basah dan memberi rasa dingin di celah-celah jari kaki. Ia juga memberi kejutan bahkan tak memberi kesempatan untukku berteduh ketika tiba-tiba rintiknya menjadi besar-besar.

 
Apapun musim yang Tuhan pergilirkan, aku belajar untuk tidak mencelanya. Karena tak ada guna menggerutu segala sesuatu yang telah diatur atas kuasaNya. Musim hujan atau keringkah, Tuhan tetap memberi banyak kebaikan. Ada matahari oranye perlahan merekahkan senyum lebarnya di pagi hari. Benderang cahaya mulai menyinari daun-daun yang penuh embun. Serta jerat dingin hujan membuat tidur menjadi pulas dan begitu nyaman.


Kalau musim berganti, kala matahari leluasa muncul. Saat aku tak ada dihadapanmu, itu tak selalu berarti aku jauh dari tempatmu berpijak. Namun aku hanya mengambil sedikit waktu untuk bersyukur pada hal-hal kecil tapi istimewa, sekedar diam menikmati musim kala sore menua dan sesekali bertasbih menatap pohon menggugurkan daun-daun kering.

#desember.
VCY, sisiungu.