Hari ini 16 Januari. Sehari lalu adalah hari pertama kali kulihat dunia ketika dilahirkan. Orang-orang menyebutnya milad, ulang tahun, atau hari lahir. Oh, maaf seharusnya tak perlu kujelaskan dengan kalimat ketiga. Semuanya tentu sudah paham.
Hari ini dan hari-hari sebelumnya, bukan 15 Januari yang kuingat betul atau empat hari setelahnya, tanggal 19 dengan nama bulan yang tentu masih sama tercantum di akte lahirku. Ibu bilang, yang paling benar aku lahir di hari Rabu tanggal 15 bukan 19. Dan sebuah kesalahan lagi, pihak “pembuat” akte, mengambil inisiatif tanpa sengaja, tanpa persetujuan Bapak dan tentu saja tak lepas dari takdir Allah, begitu kreatif mengubah nama tengahku CINTAMI menjadi CIVTANY. Meski CIVTANY juga kedengarannya enak, tapi kalau saja mereka tahu bahwa CINTAMI mengandung filosofi begitu dalam bagi Bapak, sebuah doa untuk anak perempuannya yang kini tlah dewasa namun kadangkala begitu kanak-kanak dalam bersikap agar terus tumbuh bersemi, tentu mereka akan begitu hati-hati membuatnya. Selengkapnya kesatuan namaku mengandung arti kurang lebih begini; bunga berwarna ungu yang terus tumbuh, bersemi dan memiliki sifat kuat serta rendah hati.