Thursday, July 23, 2009

Lelaki Sholeh


Lelaki Sholeh


Ingin saya ingatkan tentang lelaki sholeh ini. Karna dihari kemarin air mata menitik ramai, termangu menatap cintanya yang begitu deras pada Tuhannya. Silahkan untuk mengatakan ini melankolik, karnanya pun saya tak memungkiri itu. Rasa melankolik yang membuat saya tersudut menahan rasa malu bertubi. Hingga hanya mampu menunduk dalam dan tak ingin mendongakkan wajah ini ke langit.


Saat malam larut seperti biasa seringnya saya bercengkrama dengan aufa, leptop saya. Mengutak-atik, membuka file-file, membaca e-book, menulis, atau hanya sekedar melihat-lihat foto-foto kenangan yang tersimpan didalamnya. Malam itu saya tersadar bahwa sudah beberapa pekan ini hanya menyempatkan beberapa menit untuk membaca. Kesadaran yang juga berawal dari sepekan ini saya membiarkan permasalahan mempengaruhi suasana hati, kemudian puncaknya timbul semacam perasaan tak enak begitu menghentak. Saya mencoba untuk berdialog dengan hati dan menemukan jawaban bahwa perasaan yang membuat jiwa saya ringsek adalah kemarau panjang ditelaga ruhi dan selanjutnya merasakan kehilangan yang mendalam.


Sambil ditemani salah satu instrumen ” Sgala Puji BagiMU” dari SNADA yang bernada slomotion kemudian saya buka folder “Pustaka koe” tempat menyimpan beragam tema e-book, mencari-cari judul buku yang saya harap dapat menjadi inspirasi juga untuk memaksa kesadaran saya pulang. Akhirnya saya memilih tulisan dari Alm.Ustadz Rahmat Abdullah salah seorang yang sangat saya gemari karya-karyanya. Buku “Untukmu Kader Dakwah”disanalah saya temukan lelaki sholeh itu dalam ingatan dialog yang sangat mempesona.


Inilah cuplikan dialog itu,

Satu episode perjalanan nabi Ibrahim AS. Imam Bukhari meriwayatkan :

“…… kemudian Ibrahim membawa isterinya beserta anaknya (Ismail AS) yang sedang

disusukannya, sampai ia meletakkannya di Baitullah di Dauhah, diatas Zamzam (yang

belum lagi muncul kala itu) di bagian masjid yang paling tinggi. Di Makkah waktu itu

belum ada manusia dan belum ada air. Ia letakkan mereka disana. Ia bekali mereka

dengan sekantung kurma dan sekantung air dan segera bergegas pergi. Ummu Ismail

mengikutinya sambil bertanya “Wahai Ibrahim, akan kemana kau pergi meninggalkan

kami di lembah ini tanpa siapa-siapa tanpa apa-apa ?”. Diucapkannya

kalimat itu berulang-ulang, namun ia tak juga menoleh. Akhirnya Ummu Ismail

bertanya : ALLAH kah yang menyuruhmu melakukan ini ?” Ia menjawab : “Ya”.

Ummu Ismail berkata : “jika begitu, tentulah Ia takkan sia-siakan kami”, kemudian ia

kembali dan Ibrahim berangkat. Sesampainya di tsaniyah (jalan tinggi di bukit) tempat

mereka tak lagi melihatnya, ia hadapkan wajahnya ke Bait Allah, berdoa dengan

beberapa kalimat dan mengangkat kedua tangannya :

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di

lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah)

yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat,

maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah

mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.


Lihatlah, betapa lurusnya keluarga ini memandang perintah ALLAH. Betapa ringannya mereka melaksanakan titah agung ini. Mereka utamakan ketaatan daripada kesenangan pribadi. Dari ketiga permintaan, ternyata yang pertama dimintanya agar keturunannya menjadi penegak shalat, kemudian untuk menopang da’wah ia minta mereka dicintai ummat manusia, barulah permintaan ketiga agar ALLAH memberikan mereka rezki. Padahal keadaan sangat sulit ; tak ada sanak, kerabat bahkan manusia, tak ada air dan sumber makanan. Hanya mereka berdua ; seorang perempuan yang baru melahirkan dan bayi kecil yang baru beberapa belas atau beberapa puluh tahun kedepan diangkat menjadi rasul.

(Rahmat Abdullah)


Ada haru menyelusup dalam dada, ada buliran bening membanjiri wajah saya. Sungguh kesholehan ini sangat tak berari bila dibandingkan dengan sholehmu wahai lelaki, bapak para Anbiyya…


Bahkan hanya setitik pasir pun mungkin tak mampu keyakinan ini di bandingkan besarnya yakinmu, Wahai Ibrahim ‘Alaihi salam, juga padamu Ummu Ismail, ibunda Siti Hajar.


Dalam kemiskinan amal terkadang kita masih sempat-sempatnya berbangga diri, menjadi seorang yang sombong, masih terus melakoni peran Fir’aun dalam wajah berbeda. Akhirnya malam dan airmata menjadi saksi dalam penyesalan yang mendera.


vitha

4 komentar:

Anty said...

Full love for him, the greatest man

Kemarin, Hari Ini & Esok said...

Tuh khan apa arys bilang Lelaki Soleh itu Ust Rahmat..idolaku...
Ane kangen ma Ust. rahmat..
hikz..hikz..hikz...

Vitha Civtany Yolandary said...

dalam tulisan ini ibrahim, bukan ustadz Rahmat.
sama sepertimu, aku juga sangat merindukan ustadz Rahmat :(

fakhrul - insightmaster said...

lelaki-lelaki sholeh itu selalu ada dalam setiap aliran zaman...dia dihadirkan oleh Allah untuk menjadi cahaya yang bersinar terang disaat tak ada lagi cahaya yang bisa menuntun manusia ke jalan indah ini...