Sunday, January 16, 2011

MILAD


Hari ini 16 Januari. Sehari lalu adalah hari pertama kali kulihat dunia ketika dilahirkan. Orang-orang menyebutnya milad, ulang tahun, atau hari lahir. Oh, maaf seharusnya tak perlu kujelaskan dengan kalimat ketiga. Semuanya tentu sudah paham. 

Hari ini dan hari-hari sebelumnya, bukan 15 Januari yang kuingat betul atau empat hari setelahnya, tanggal 19 dengan nama bulan yang tentu masih sama tercantum di akte lahirku. Ibu bilang, yang paling benar aku lahir di hari Rabu tanggal 15 bukan 19. Dan sebuah kesalahan lagi, pihak “pembuat” akte, mengambil inisiatif tanpa sengaja, tanpa persetujuan Bapak dan tentu saja tak lepas dari takdir Allah, begitu kreatif mengubah nama tengahku CINTAMI menjadi CIVTANY. Meski CIVTANY juga kedengarannya enak, tapi kalau saja mereka tahu bahwa CINTAMI mengandung filosofi begitu dalam bagi Bapak, sebuah doa untuk anak perempuannya yang kini tlah dewasa namun kadangkala begitu kanak-kanak dalam bersikap agar terus tumbuh bersemi, tentu mereka akan begitu hati-hati membuatnya. Selengkapnya kesatuan namaku mengandung arti kurang lebih begini; bunga berwarna ungu yang terus tumbuh, bersemi dan memiliki sifat kuat serta rendah hati. 



Yah, hari ini dan hari-hari sebelumnya, bukan 15 Januari yang membuatku terpaku kemudian merenung dalam-dalam walaupun banyak sekali nama yang memberi ucapan selamat dan doa padat ketulusan, tapi ada hari lain yang kuingat dengan baik di bulan desember penuh cinta. Tepatnya 3 desember dan 12 desember. Tanggal lahir Ibu kemudian Bapak dengan tahun berbeda. Karena mengingat hari-hari spesial juga pengorbanan orang-orang yang kita cintai adalah hal yang indah dan manis, bukan?

3 Desember. Barakallah Ibu. Terima kasih ketika hari itu, rabu, 15 januari ,  telah mengorbankan nyawa yang hanya satu untuk hidupku. Terima kasih telah setia melindungi anak-anakmu. Terima kasih untuk doa-doa sepertiga malam yang selalu engkau hadirkan. Juga pada tiap suapan sarapan kala aku sekolah dasar. Lalu kata-katamu yang bernada marah ketika aku tak patuh. Terima kasih untuk sebentuk sayang lainnya, yang kau ungkapkan dengan pemberian sebuah jilbab putih sederhana. Bagiku maknanya jauh lebih mahal dari harganya. Sebuah jilbab putih yang selalu setia melekat di kepala ketika aku berangkat sekolah.

12 Desember. Barakallah Bapak. Terima kasih sudah bekerja ketika embun masih menggantung. Dulu, aku yang kecil tak pernah tahu pengorbananmu terbang menembus waktu. Terima kasih untuk tiap lagu masa kecil yang kau ajarkan dan sampai kini masih sering kulantunkan pelan-pelan. Meski cintamu tak begitu banyak kata tapi selalu ada perhatian tak berjeda. Aku pun masih ingat saat suatu pagi aku yang berseragam abu-abu diantarmu ke sekolah namun dalam perjalanan kita mengalami kecelakaan. Siapa yang paling engkau khawatirkan? Aku, anakmu.

Bersama waktu yang terus beranjak dan usia berlalu, selalu terselip doa-doa bakti pada kalian. Meski hanya lewat hati yang kadangkala tak berisi cinta yang penuh. “Allah, jaga dua nama orang terkasih ini, amiin.”

Pontianak,
*membaca rindu di hari miladku.

2 komentar:

DjDwija said...

met milad ukhti.. afwan.. agak telat ngucapinnye.. ni juga baru tau setelah membaca postingannya :-)
semoga tetap menjadi seseorang dengan sifat bunga berwarna ungu yang terus tumbuh, bersemi dan memiliki sifat kuat serta rendah hati.. amin.. :-)

Sisi Ungu said...

Amin Ya Rabbal 'alamin.
Makasi Dwije, tak ngucapin pun tak apa2. Semogapun engkau selalu sehat dan bahagia :)