Saturday, March 5, 2011

Hei, Aku Rindu!


Hei, Aku Rindu!
Kuraih handphone merah metalik di meja setelah memasukkan sesendok nasi goreng ke mulut. Rasa lapar yang terus mengganggu dari semalam tak lagi bisa kutahan dan itu baru kusadari setelah pukul 12 siang. Kupencet satu-satunya nomor handphone yang kuingat. 12 angka, hanya nomor hp-mu.  Aku jadi ingat, siang itu aku memang harus mengingatkan hal penting padamu.
 “Jangan lupa, besok giliranmu presentasi. Kalau tak ketemu materi itu ganti aja sama yang lain.” kukirim sms.
“Hehe..aku minta izin gak bisa datang. Dua minggu ini lagi di sungai pinyuh, lagi terapi. Aku tak jadi operasi. Selain biayanya besar, resikonya juga besar.” kamu menjawab smsku.
“Baiklah…semoga dirimu baki-baik, ya Say.”
Kamu masih rutin menjalani terapi rupanya. Setelah hampir dua bulan lalu mengalami tabrakan motor. Hari-hari kemarin lewat ceritamu di pertemuan kita yang hanya beberapa jam, kamu keluhkan kepala yang sering timbul sakit. Aku sendiri kadang menyimpan sesal karena semakin lupa menunjukkan wajah di hadapanmu untuk menyemangati atau setidaknya menjadi pendengar setia setiap ceritamu.  Kuhitung sejak kapan kita semakin jarang bertemu setelah tak lagi berkerja di tampat yang sama. Bulan, minggu, hari. Terlalu sibukkah kita? Tidak. Mungkin kita sedang menyimpan rindu ini dulu, lalu mengatur lagi waktu bertemu di masa yang lain, bulan, minggu atau hari berikutnya.
Sejak aku membelokkan motor ke arah kanan jalan raya, lalu memarkirnya diantara motor pengunjung warung “Es Shanghai” yang sering kita singgahi ini sampai akhirnya menentukan tempat duduk yang nyaman. Semua itu mengingatkanku tentangmu.  Tiba-tiba aku rindu kamu. Tempat inilah yang sering kita tuju, tiap kali merasa lapar setelah selesai siaran. Memesan menu yang sama, nasi goreng sosis atau jika lagi tak ingin makan yang berat kita pilih pisang bakar coklat keju dan es shanghai.  Kadangkala juga kita membeli “pentol” di depan SMP yang tak jauh dari warung ini, tak peduli harus ngantri bersama murid-murid yang pulang sekolah, yang penting kita senang.
Di sini juga kita sering  berbagi kisah, apapun itu, meski tak semuanya. Jika sedang lelah kita saling diam dengan pikiran masing-masing namun dengan arah mata yang sama, menatap anak-anak sekolah di depan kita. Kamu, sahabat yang selalu di bilang kembar denganku. Kita yang seringkali kemana-mana berdua. Membeli baju dengan selera yang sama, bahkan pernah ada baju lebaran yang sama.  Kita memang memiliki banyak kesamaan selain diselip perbedaan. Lalu, malam ini dengan rindu dan rasa peduli yang tak ingin kubuang. Aku meraih handphone merah metalikku lagi. Memencet satu-satunya nomor yang kuingat.
“Jika kau bahagia, aku pun bahagia.” Kutekan send.

Pontianak, Maret 2011.

2 komentar:

yetilismani said...

anti tabrakan ke ta.
kk baru tahu...
syafahullah

Sisi Ungu said...

iya, berapa bulan lalu, amiin..