Wednesday, November 9, 2011

#Untittle


Aku tetap makan es krim di panas yang terik dan saat demam, mencuci pakaian walaupun sejam selanjutnya panas naik lebih tinggi hingga membuat hilang tenaga dan nyeri menusuk-nusuk tulang (selama ini aku selalu berfikir tak membiasakan diri dengan laundry kecuali dalam keadaan mendesak) dan aku menerobos hujan walaupun di motor sudah terselip mantel. Meski aku tahu tubuh ini begitu rentan dan memiliki sensitifitas sedikit kuat terhadap perubahan suhu.

Aku hampir selalu memiliki dosis sendiri tiap kali mendapat resep obat (dalam hal mengurangi takarannya) atau hanya menaruh semua racikan obat itu di dalam box medicine sepulang bertemu dokter dan merasa tak perlu meminumnya hingga sore juga malam-malam berikutnya. Ibarat sebuah kuitansi, obat hanya berupa tanda bukti bahwa aku sudah memeriksakan kesehatan.

Aku berfikir lagi tentang beberapa anjuran yang mentah-mentah kutolak tersebut karena terkadang terlalu lelah dalam posisi yang benar. Sebab perlu tahu rasanya berbeda dari kesepakatan-kesepatan bersama. Setidaknya aku tetap menyadari konsekuensi daripilahan sikap yang kubuat. Walaupun di dalam hati aku sering berkata, semoga tidak terjadi apa-apa. Hmm..sebuah pembenaran diri ya? he...

Dan ketika selama dua hari ini tubuh kembali memberi sinyal sakit. Demam yang membuat siang menjadi tak semangat lalu malam kini terasa berat. Ada penyesalan yang semakin menebal. Allah…maafkan aku karena telah menyia-nyiakan nikmat sehat yang telah Engkau beri di sepanjang aliran darahku. Saat aku begitu menyadari bahwa seorang Vitha bukanlah makhluqMu yang kuat. Bahkan degub jantung ini atas kuasaMU.


vcy, sisiungu.
november.

4 komentar:

Mira Chidayu said...

syafakallohu laki yaa kak inge...
_
pantesan gk ada ke rumah...

sisiungu said...

Jazakillah Mira.

iya, blom sempat lagi :)

sulistya nisa utami said...

ingin mengenal sisi-ungu lebih jauh !

sisiungu said...

salam kenal kembali dek Sulis :)

sy hanya seorang yg biasa, tak banyak memiliki hal istimewa :)