Tuesday, June 9, 2009

Bicara CINTA…


Bicara CINTA…


Sebenarnya dari lubuk hati terdalam, aku begitu sungkan untuk menuliskan perihal ini. Sampai aku menulis kisah perbincangan ini, aku masih ragu. Membicarakan 5 huruf tersebut terlebih rasa yang bermuara pada sosok laki-laki bagiku adalah sebuah perkara sensitif dan ini introvert. Namun keinginan menorehkan pikiran menjadi kuat karena rasa CINTA sedang singgah di hati salah seorang teman.


Indikasi itu kubaca dari kata, wajah dan geriknya. Aku merasakan itu dari nya. Untuk bertanya, “Apakah engkau sedang jatuh hati, kawan?”aku sungkan. Namun beberapa hari kemudian akhirnya ia berkata jujur, kalau ia sedang menyimpan rasa itu pada seseorang.

“Wow”aku tersenyum. Ia tertawa.

“Aku merasa bersalah, karena telah menyimpan rasa ini” ungkapnya pagi itu diruang makan, setelah kami menikmati sarapan.

“Aku juga malu padamu” tambahnya. Kudengar baik-baik ungkapan hatinya, memasang kuping dengan seksama.

“Mengapa rasa ini harus hadir?” lanjutnya lagi dengan wajah sayu. Sedang aku hanya bisa menunjukkan senyum.

“Cinta itu fitrah”aku angkat bicara, sebuah kalimat klise.

“Mengapa mesti malu?”

“Hmmm…..aku benar-benar malu pada Allah, padamu dan diriku sendiri” kalimat itu di ulangnya.

“Lapangkan dadamu, jangan kau sempitkan”

“Maksudnya?” Ia bertanya sambil menatap wajahku dalam- dalam.

“Dada ini terasa sesak dipenuhi oleh suara-suara yang ingin ku teriakan, hmmm….”dia berdehem sambil menatap langit-langit rumah yang berwarna biru.

“Rasa itu anugerah” kubalas tatapannya.

“Hanya yang perlu dilakukan mesti pandai- pandai menata perasaan, waktu sedang jatuh cinta, jangan larut”

Lalu kami saling diam, bermain dengan pikiran masing- masing.

“Cinta itu melahirkan perbaikan watak”ku mulai bicara lagi.

“Maksudnya?”penasaran.

“Ketika rasa itu hadir maka seharusnya meningkatkan kadar taqwa kita pada Sang Pemilik cinta”

Ia mengangguk.

“Jangan lawan kehadirannya, namun cobalah bungkus rasa itu dengan rapi, arahkan pada sang Kuasa, kemudian tunjukkan dengan sikap- sikap kita”

Ia masih bingung.

“Bahwa seseorang yang mempunyai rasa cinta maka budi pekertinya menjadi halus, akhlaknya semakin baik” sambungku.

‘’Saking halusnya rasa cinta itu, hingga tak semua manusia mampu menterjemahkannya, pikiran mereka kacau, aku tak ingin“ia menimpali.

“Akhlaq yang tampil itu mungkin semacam bentuk rasa syukur karena telah di anugerahi rasa CINTA”

“Oh, aku mungkin belum mampu seperti itu”katanya sambil memperbaiki posisi duduk.

“Aku pun sedang belajar”jawabku.

“Jujur saja, kini hatiku serasa gersang karena rasa bersalah ini, kawan”

“Akan ada saat yang tepat nanti ketika engkaupun sudah merasa siap”lanjutku.

Ia kembali diam.

“Ku yakin engkau bisa, cuma memang perlu waktu.”

“Ya, mungkin juga tak semudah membalikkan telapak tangan”Aku mengakhiri.

Kami terdiam. Ku sunggingkan senyum untuknya.


Oh, Tuhan. Aku sedang menasehati seorang saudara, maka jadikan lisan ini dan akhlaqku juga begitu seharusnya. Seperti namanya “Jatuh Cinta” jatuh tentunya sakit, namun jika rasa itu bisa dimanajemen ia akan terasa indah dan tentunya muaranya adalah Sang Pemilik Cinta.


Wallahu’alam.

Nb: Saudaraku yang menjadi inspirasi, izinkan aku menuliskan ini ^_^

2 komentar:

Kemarin, Hari Ini & Esok said...

“Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah,” Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah
Itulah cinta...
susah2 gampang mengaturnya..
tapi cinta itu fitrah, hal yg suci anugrah dari Illahi...
Wah senengnya...Mbak Vith, masukin Arys jadi "Tempat Saya Belajar" bersanding dengan orang-orang hebat..
Suqran ya Mbak...

Vitha Civtany Yolandary said...

ya, rys...
sama- sama menempa diri ^_^