Thursday, November 12, 2009

Berhenti sejenak...



Berhenti sejenak...


Aku ingin melihat ke belakang lagi, melihat jalan- jalan yang pernah kulalui. Setelah sedikit tersentak dengan sebuah pernyataan dari seorang adik tingkat yang memang berteman akrab denganku. Ketika dua hari lalu kami duduk di tempat tunggu parkiran kampus, saat aku dan dirinya sedang menunggu teman yang hendak meminjam buku padaku.


“ Rasanya mau nangis, lama benar!” spontan kalimat ini keluar dari mulutku. Aku memang agak kesal karena hampir dua jam berlalu ditambah aku sedang demam dan menahan sakit kepala yang luar biasa. Teman yang kutunggu tak juga menampakkan diri. Mendengar aku berkata demikian ia yang duduk disampingku tertawa seketika sambil berkata, “Kalau kau menangis, gimana nanti adek- adek dan sahabat yang biasa curhat padamu sampai nangis”. Aku terdiam sesaat dan merasa kata- kata itu pas dengan isi benakku detik ini. Ia memberikanku sesuatu.


Terkadang aku memang menjadi tempat curhat mereka. Tempat menumpahkan masalah- masalah dan sering kutanggapi tanpa keluhan. Hanya ada kalimat- kalimat nasehat yang bisa kuberikan. Tiba- tiba aku merasa jenuh dan ingin berhenti. Hal ini akan terjadi bila engkau menemukan seseorang yang dapat memperlihatkan kebodohanmu sedangkan engkau ingin selalu terlihat pintar.


Siapa aku ini? Berhenti sejenak dan melihat ke belakang. Sepanjang perjalanan hidup beberapa nama mempercayakan kisah mereka padaku. Yang kadang membuat kondisi bahwa aku merasa lebih dewasa dibandingkan orang lain. Bahwa aku punya berjuta jawaban dari setiap permasalahan. Aku sedang mengkritisi diri, mencurigai diriku sendiri. Jangan- jangan selama ini tanpa sadar aku telah membuat diri terlihat sempurna. Tidak boleh punya cela. Selalu nasehat yang keluar dari mulut bukan keluhan. Harus menjadi seseorang yang tegar dan bukan seseorang yang sewaktu- waktu bisa patah.


Orang banyak bisa saja terpikat. Mereka begitu takjub dengan keindahan luar yang mempesona: penampilan, retorika, dan slogan. Tapi, tetap saja kalau kesegaran dan keharuman jiwa cuma bisa diraih dari sesuatu yang hidup. Lalu, adakah yang ingin mengatakan ini padaku, "Kau juga boleh jatuh, kau juga boleh salah”. Kesalahanlah yang membuatmu jadi manusia. Kau seperti lilin, berusaha menerangi orang sedang dirinya perlahan habis.


Aku : Seseorang yang kadang kuat dan bisa merapuh namun masih punya langkah untuk melanjutkan perjalanan.


Siapapun engkau? Ini Aku, bukan malaikat.

13 November09

3 komentar:

Anonymous said...

assalamu'alaikum...
alhamdulillah,,
kesalahan akan membuat kita lebih dari sekedar benar...

najahakillah

Vitha said...

wa'alaykumsalam.

jazakallah,
hanya belajar realistis terhadap diri sendiri.

Muslimna said...

smoga sukses...