Tuesday, June 29, 2010

Catatan Sebuah Hari


**Kondisi hari ini lain, aku tak ingin menulis sajak atau puisi, tempat pemberhentian yang absurd, ambigu lalu melawan nalar. Karena tulisan kali ini berbeda yaitu beberapa potong pikiran dalam sebuah catatan hari.



Pagi yang tergesa...


Kondisi hari ini lain, GHAZI, teman elektronikku yang seringkali kubawa ketika siaran kali ini tak menemani. Semenjak kemarin ia bersama orang lain yaitu seorang adik yang kini tak lagi menjadi bagian dari halaqoh kecil yang sepekan sekali kuisi. Dengan tulus tanpa minta bayaran ia menawarkan jasa untuk meng-install GHAZI. Karena itu, ini adalah pagi yang tergesa, memilih untuk datang lebih awal ke studio karena satu jam setelah jadwal siaran pertama dilanjutkan browsing mencari bahan kemudian menyusunnya menjadi sebuah script untuk program BERITA. Sebuah program yang memang harus “base on text”. Suara yang sedikit “girly”(tanpa dibuat2) harus kusulap lebih berwibawa dan tegas. Mulai hari ini jadwal siaran bertambah. Sebenarnya ingin mundur karna cukup tahu diri sebab karakter suara yang tak mendukung namun semuanya hanya perlu usaha, waktu dan latihan.


Di lubuk hati yang lain, aku masih merasa terjebak. Penyiar, sejujurnya sebuah profesi yang bertolak belakang dengan hati. Menyenangkan sekali bisa bekerja didunia media tapi sungguh aku tak begitu menyukai dunia publik, lebih senang berada di sudut dan sungkan untuk tampil di muka umum, cuap-cuap atau sejenisnya apalagi konsekuensi dari profesi ini yaitu akan dikenal banyak orang. Out of Box, mungkin istilah ini yang paling tepat, sebuah proses panjang yang sedang kunikmati sekarang. Berusaha untuk keluar dari zona aman dan nyaman. Kemudian mengukur kemampuan, ada kondisi kadangkala kita tak menyadari kalau kita punya potensi yang lebih dari yang kita tahu, wallahu’alam.


Hal lain yang juga tak kusukai adalah mengekspose semua yang kualami dan rasa. Mengungkapkan segala sesuatu dengan detail yang terjadi dalam hidup. Maka aku lebih menyukai puisi atau sajak, sesuatu yang absurd, ambigu, melawan nalar, dan juga karena detail makna yang tersirat hanya penulisnya yang tahu. Bukankah hidup tanpa privasi adalah sebuah ketidaknyamanan? Saat semua aktivitas dan perasaan diketahui banyak orang. “Lagi di kantin makan sama si Anu” atau “lagi di marahin sama Ibuku” seperti status2 yang beterbangan menghiasai dinding sebuah jejaring pertemanan. Ketika semua hal terungkap dengan jelas. Hingga mataku sampai pada sebuah status yang membuatku beristighfar dalam-dalam, “Aku tak bahagia dengan pernikahan ini, dia selingkuh” (Nah lho...sudahlah tak perlu dibahas. Meski berekspresi kadang diperlukan namun tak semua hal harus diekspresikan. Tapi terserah, semua itu tergantung dari kepribadian masing-masing. Dan kondisi hari ini memang lain, aku mempublish beberapa potong pikiran yang bergelayut dikepala kali ini. Catatan sebuah hari.



Ketika mentari di atas kepala...


Saatnya pulang menyusuri jalan raya dengan motor. Mataku memperhatikan seseorang di seberang jalan. Berderit-derit hati. Bergejolak. Perih. Melihat sosok wanita setengah baya tanpa lengan dan kaki. Sendiri di trotoar mengemis belas kasihan para pengendara kendaraan yang lewat, menunggu rupiah yang disisihkan oleh mereka. Sampai jam berapa ia bertahan disana? Bagian dari para pengemis yang terorganisirkah? Entahlah. Juga pada seorang lelaki tua renta yang kepayahan mendorong becak ketika hendak menyebrang. Tontonan kisah orang-orang kecil yang menanggung keserakahan manusia-manusia yang mengaku besar.


Sejenak ada sesuatu berputar pada ruang yang ada dalam otakku. Berputar seperti film. Mengenang beberapa kasus dalam negeri yang ditayangkan televisi beberapa bulan terakhir. Tak salah jika lahir sebuah sajak “Negeri Para Bedebah” dan sebuah kalimat yang kubaca dari sebuah majalah akhir pekan kemarin,“Negeri ini kembali ke era Jahiliyah”. Inilah bencana akhlak. Terkuak beberapa kasus jejaring para koruptor yang begitu lembut dan rapi. Ada yang salah? Kita mengetahuinya, terbuka mata dan telinga bahwa mafia dinegeri ini bukan sekedar ilusi melainkan riil dan bisa terjamah. Pemandangan ironis lainnya, peradilan yang tanpa merasa bersalah menerapkan hukum seenaknya. Kasus nenek bernama Minah di jatuhi hukuman 6 bulan kurungan penjara hanya karena dituduh mencuri buah kakao. Kasus serupa, Manisih dan Sri Suratmi yang dituduh mengambil kapas seberat 2 kilogram. Kasus Prita yang menanggung dua jeratan hukum: perdana dan pidata.


Hingga cuplikan dijalanan tersebut mengingatkanku pada sebuah nasehat yang terekam dari film sang Murobbi (udah pada nonton kan ya?) ketika sosok Alm. Ustadz Rahmat Abdullah yang di perankan oleh orang lain sedang menasehati adiknya dengan lembut ketika si adik habis berkelahi karena perkara sabung ayam, “Jangan hanya ayam yang loe kandangin, tapi juga nafsu loe”. Sebuah nasehat yang sangat mendalam dan membuat hatiku tertohok. Lalu kita juga mungkin ingat hadist ini, “ Akan tiba suatu zaman atas manusia saat dimana perhatian mereka hanya pada perut dan benda semata...(HR.Dailani)



Malam tak berbintang...


Seorang teman lama SMA membawaku pada cerita-cerita masa lalu. Berputar-putar kisah kami diselingi tawa. Hingga sampai pada pertanyaan lain yang ia ajukan padaku.

“Gak panas dengan jilbab lebar?” katanya.

“Tapi aku suka lho lihat kamu dengan jilbab seperti ini, lebih anggun, manis.” tambahnya seraya tersenyum.

“Sebenarnya aku pengen pake jilbab kaya’ kamu tapi rasanya belum pantas, aku malu, takut jadi bahan omongan orang lain” terangnya lagi. Kemudian muncul berderet pertanyaan. Akhirnya malam itu berisi diskusi tentang keislaman antara aku dan dirinya.

Sisi fitrahnya sedang bicara, rindu pada sebuah kebenaran. Namun tak cukup memiliki keberanian untuk melangkah dan meraihnya. Pada kondisi yang lain mungkin aku, kita juga seperti itu, aku tertunduk.


1 komentar:

chikarei said...

hmmm
mendengarkan dialog sambil makan kacang hehee^^