Wednesday, June 29, 2011

Pada Kenangan



Setiap kenangan, pada akhirnya punya akhir bukan? *

karna tak terlalu baik memikirkan hari yang tlah lewat
maka biarkan suka yang memancar dari senyuman
kesedihan berhak berkarib bahagia,
dan barangkali semuanya menjadi mudah kalau diakhiri ketulusan.

Adakah yang pantas disesalkan?
tidak, selain kesalahan yang berpilin
atau pada kenangan yang kadangkala membuatmu sulit memejam mata
terus melonjak-lonjak di kepala meminta waktu untuk di ingat
menelingkup hati dengan duka kala malam gulita
mengusik hingga pagi hari

Pada kenangan, kadangkala biarkan ia lapuk dan menguap
sebab ada yang lebih berharga darinya, pelajaran.
pun ada yang mesti kau perhatikan lebih dari itu, bukalah jendela
ada senja yang megah di langit kota
langit halus serupa sutra
pelangi yang melengkungi ketika hujan turun berirama

Hingga jika suatu hari kau jumpai aku lagi
saat awan berwarna jingga di ujung langit
sampai ke hilir pun tak lagi kau temukan kata-kata menjelma kecemasan
sebab durasi waktuku amat sempit tuk merajut mimpi-mimpiku sendiri,
agar kian dekat dan lekat

“Kebahagiaanmu bukan disana, melainkan di sini, di dalam hatimu sendiri”



Pontianak, 29062011
(sisiungu, vcy)
---------------------------------------------------------------------------------------

Coba katakan padaku apa yang engkau inginkan
Barangkali aku mampu melepaskan dukamu
Coba kau dekap hening terbang menembus waktu
Tak perlu kau risaukan luka dan kepedihan

Setidaknya aku dapat
mengajakmu larut dalam gelora nyanyianku
Kadang-kadang tanpa terasa
mataharimu telah bersinar ceria kembali
… (Biarkanlah Hati Bicara - Ebiet g ade)


NB: Frens, slalu ingin bilang ini: apa yang kutulis bukan puisi. Karna kadangkala jemari begitu semangat menulis meski untuk hal-hal yang sangat sepele. Selamat menikmati^^

1 komentar:

Jaen l Arifn said...

kenangan tak kan berakhir,
yang berakhir adalah momen yang terlewatkan... :-D

tahukah kawan, amat teramat sulit untuk melupakan... tak bisa dituntun...
tak bisa dilawan, datang dan pergi memori sesuka ia...

menginginkan satu tombol reset di otak (sayangnya tidak ada).