Saturday, November 26, 2011

Ibuku


Oh rentangkan tanganMu Bersama datang malam
Agar dapat kurebahkan kepala
Pada bulan di lenganMu

Oh hembuskanlah
Nafas iman ke dalam sukma
Agar dapat kuyakini
Hidup dan kehidupan ini
...
(Hidup IV by Ebiet G Ade)


Malam sunyi, lamat-lamat kudengar ibu bernyanyi pelan. Sesekali kulihat ia berusaha mengingat tiap lirik lagu tersebut. Lagu yang sama yang sering dinyanyikan almarhum kakek.

Ibu yang semakin sholeha di mataku..

Kini ibu bisa mengaji meski dengan makhrijul huruf yang tak beraturan. Dulu beliau tak bisa mengejanya. Di usianya yang sudah berkepala empat beliau memulai belajar dengan buku Iqro. Setahun, dua tahun, semangatnya untuk mempelajari Alquran tak pernah surut. Hingga sekarang beliau selalu rutin membacanya selepas sholat. Sering pula kulihat ibu menangis saat membaca terjemahan Alquran, menyimak ayat demi ayat peringatan. Aku malu pada Ibu karena terkadang aku tak begitu konsisten membaca terjemahan Quran.

Dua pekan ini kedatangan ibu memberi banyak hal berharga di hatiku. Tiap pagi-pagi kami ke pasar untuk belanja sayur dan keperluan lainnya atau ke manapun, kalau kami melihat seorang pengemis, ibu selalu cepat-cepat membuka dompet, menyisihkan uang untuk pengemis tersebut. Jika ibu bertemu dengan empat orang pengemis, empat orang itu pula akan mendapat uang darinya.


Ibu tempatku belajar banyak hal. Benarlah pernyataan seseorang yang kulupa namanya bahwa saat hidup bersama penyesuaian terjadi sepanjang hidup. Salah satunya akan ada saja kebaikan yang kita jumpai dari orang-orang yang hidup dekat bersama kita. Seperti hari siang sebelum Bapak dan adik lebih dahulu kembali ke kampung halaman, saat kami berempat berbelanja pakaian. Ibu memilih satu dua pakaian lagi padahal adik dan aku sudah ia belikan. Waktu kutanya untuk siapa? Beliau bilang untuk kakak dan saudara perempuanku yang ketiga. Aku diam. Kami sudah dewasa. Kakak dan adik perempuanku bahkan sudah memiliki keluarga sendiri. Kebutuhan mereka mungkin sudah terpenuhi dari nafkah suami masing-masing namun ibu dengan suka rela membeli pakaian untuk dua saudaraku tersebut. Aku sudah lama hidup bersamanya namun masih kutemukan kejutan sikapnya.


Dan tahu kah, ibu selalu ramah pada setiap temanku. Meski baru ia kenal. Ibu tak hanya seorang perempuan yang melahirkanku, ia adalah sahabat. Sehingga beberapa teman selalu merasa dekat dengannya. Ibu menjadi teman curhat, ibu juga sering menasehati dan mengingatkan pada kebaikan-kebaikan.


Manusia memang mempunyai kekurangan namun dibalik kekurangan ibu, aku menemukan berjuta kebaikannya. Setidaknya di mataku, salah seorang anak perempuannya.


*penghujung november
vcy, sisiungu.

2 komentar:

Rizaldy Gema said...

kelak kau pun akan menjadi ibu, maka jadilah ibu yang baik seperti ibumu atau ibu-ibu lain yang sudah menjadi ibu yang baik. *iya gue tau ini komen gue kebanyakan ibunya.* haha. -__-'

sisiungu said...

amiin, semoga dik Rizaldy :)
he..nyadar ya sama kata2nya itu :D