Tuesday, March 12, 2013

Lagi-lagi Cuma Rasa Syukur




Di langit siang benderang. Kota yang panas. Alunan musik tetangga menenggelamkan keinginan untuk terlelap barang sejenak. Hari libur begini, kala matahari telah lewat sepenggal di atas kepala akan ada nada dari belakang rumah yang membuat kepala berdenyut-denyut. Saya sendiri tidak tahu dengan tepat di rumah mana suara nyaring musik itu berasal. Kadangkala saya heran mengapa karaoke menjadi aktivitas yang dipilih padahal sudah peraturan jamak kalau siang adalah jeda waktu untuk orang lain beristirahat. Yah, sudahlah mari bersikap cuek. Irama baling-baling kipas angin yang teratur di sudut ruang ini lebih merdu bunyinya.

Saya pasang headset. Saya putar mp3 Koi. Tiba-tiba hati diliput haru. Banyak hal sebenarnya yang ingin saya tuliskan. Namun otak sedari tadi berputar pada kesimpulan-kesimpulan yang saya ambil setelah Allah tunjukkan sesuatu beberapa hari lalu.

“Jadi, apa yang ingin kau katakan?”

“Kesadaran yang saya awetkan sekarang.”
 
Bahwa berharap memiliki rasa sabar dan syukur itu sama saja diri harus siap dengan segala tempaan dari Nya. Mengharap meraih cintaNya sama saja diri harus yakin dengan jalan taqdir dariNya. Saya paham. Kehidupan yang saya jalani sekarang pastilah memiliki berjuta keajaiban yang Allah berikan. Hari ini, minggu depan, bulan, kemudian di tahun-tahun yang kan datang. Mari, terus berbaik sangka pada Allah bahwa semua perbuatanNya pasti benar, baik dan banyak hikmahnya walau tak sesuai keinginan kita.
 
Adapun duka yang dirasakan di hari lalu hanya perlu waktu untuk menetralisirnya sebentar. Jangan tanya serupa apakah duka yang saya bungkus itu sebab kini tiada lagi gumpalannya berdesak-desak. Namun yang tersisa hanya syukur. Lagi-lagi cuma rasa syukur. Dan sesungguhnya segala kesalahan yang terkenang kemudian membuat ada keinginan menyeruak di dada yaitu belajar kembali untuk lebih “sederhana”, serta menjadi sholeha. Meski tak mudah. Meski cuma Allah yang pantas menyematkan predikat itu. Diri hanya berusaha.

Nah.
 
La haula wala quwwata illa billah…



Maret, 2013.
VCY, sisiungu.


5 komentar:

Rizaldy Gema said...

Karena sabar dan syukur itu saling beriringan, bukan begitu mba? :)

diniehz said...

berbaik sangka kapan saja sama Allah ya kak.. :')

sisiungu said...

@zaldy: iya, bener Zal :

@diniehz: yups dear, meski kadang kita lalui jalan berliku untuk terus menjaga perasaan "baik sangka" padaNya... :)

Dewi Suryani said...

iya kak, karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-hambaNya.. husnuzhan padaNya segala sesuatu yang diberikannya adalah terbaik untuk kita ^_^

sisiungu said...

bener we :)