Showing posts with label Perempuan Ini. Show all posts
Showing posts with label Perempuan Ini. Show all posts

Saturday, July 26, 2014

Nulis lagi...


Menuju sore yang lengang.

Senang sekali rasanya bisa kembali menjentikkan jemari di atas tust leptop. Lama sudah meninggalkan rumah sederhana ini. Dan saya teringat kalimat seorang teman bahwa setelah menikah blog akan semakin jarang "diurus". Beberapa hal berubah dan nyatanya memang demikian namun segalanya bukan karena hal tersebut, hanya saja selain kini telah menjadi IRT (seharusnya ini bukan alasan), bertambah pula kesibukan lain serta leptop yang baru kembali dari negeri antah berantah, he...

Rindu, tentu saya sangat rindu. Sebab satu sisi, mengungkapkan segala sesuatu dengan kata-kata itu melegakan. Setidaknya saya merasa begitu dekat dengan diri sendiri dan untuk berbagi sedikit hal yang menenangkan bagi siapapun.

Dan btw, ada hal lain yang juga saya sadari. Sudah penghujung Ramadhan rupanya. Semoga semakin banyak yang disyukuri. Semoga bertambah taqwa. Semoga bertambah rindu padaNya. Maaf untuk kekhilafan yang pernah ada dari diri Saya, sisiungu :)


Pontianak, 26 Juli 2014.
Sisiungu, vcy.

Monday, December 16, 2013

Sepotong Ingatan




“Al-Qori’ah artinya apa?”
“Artinya hari selasa, Ustadzah!” suara nyaring seorang anak serta merta membuat saya menahan tawa.
Ya, jawabannya tentu bukan itu.

“Ustadzaah…” Cup. Mendarat kecupan hangat dari bibir mungil si Kiran membuat saya menghentikan pembicaraan.

Seorang lagi menatap saya dengan serius, “Adha mau jadi pilot. Kalau Ustadzah pergi dengan pesawat ke bandara ya..” Tentu nak. Tak ada pesawat di terminal bus. Senang rasanya mendengar salah seorang bercita-cita ini. Mungkin di lain waktu, saat saya mengajukan pertanyaan yang sama jawaban yang Adha berikan bisa saja berbeda. Seperti kebanyakan kita ketika kecil.

Betapa bahagia bertemu dengan anak-anak dengan keramahan yang tidak dibuat-buat serta nikmat rasanya duduk bercengkrama dengan mereka, meski pada akhirnya hanya di posisi sebagai pendengar. Saya paham pastinya kami sama sekali tidak menyangka akan dipertemukan olehNya. Dibilangan waktu kemudian saya hanya merasa selalu ada pertalian kasih sayang Allah di setiap langkah, apapun itu.

Sepotong Ingatan. Semacam mencari jejak di masa lalu. Ketika kecil apa saja yang kita ceritakan pada guru kita? Siapa saja teman-teman yang lucu semasa itu? 

 
Desember 2013,
VCY, sisiungu.


Sunday, September 22, 2013

Memetik Hikmah





Di masa lalu kita mungkin pernah salah.

Dan barangkali kita sering menerka-nerka sesuatu akan berujung sederhana namun pada akhirnya menjadi hal yang kita anggap demikian rumit.

Di masa lalu barangkali kita menyimpan beberapa impian kemudian seiring waktu kita sendiri yang menenggelamkannya.

Di detik ini, aku terpikir tentang banyak hal yang terjadi di masa lalu. Entah pada bilangan tahun yang keberapa saja. Kala mengenang kesalahan yang tiba-tiba membuat jemari bergerak ke sudut mata, menghapus buliran bening yang jatuh. Atau mengenang segala sesuatu yang membuatku terus bersyukur hingga kemudian membatin, terima kasih Allah betapa Engkau sangat baik. 

Dalam tiap hela nafas kini. Nyatanya banyak yang patut disyukuri setelah sebelumnya ada kekecewaan yang menyelinap perlahan-lahan. Namun tahukah apa yang paling melegakan serta membahagiakan dari semua itu? Yaitu saat rangkaian hari, tahun demi tahun setelah masa itu akal dan hati memberikan perhatian penuh untuk memetik hikmah dari apa yang Allah berikan, dari segala apa yang terjadi. Setulus-tulusnya. Dan semakin memahami Allah menyusun rencana untuk menyampaikan pesan yang indah pada hambanya yang berserah diri.


Pontianak, September 2013
VCY.

Sunday, June 30, 2013

Mengenangmu






Musim sudah berulang berganti. Angin bertiup pelan dan langit terasa lebih dekat. Di malam yang benderang purnama sudah berpuluh kali menunjukkan wajahnya menyongsong malam. Sedang sesekali aku masih saja mengenang pada sepotong waktu saat sosokmu menyembul dari kerumunan orang-orang di hari mendung kala itu.


Apa kabarmu? Apakah segala sesuatu berjalan sebagaimana lazimnya? Terkenang pula persahabatan yang kau sodorkan dulu. Hangat dengan keramahan yang tidak dibuat-buat. Kini berbilang waktu kemudian, kehidupan yang datang pastinya kita tidak pernah menyangka akan alurnya yang kadang berliku. Barangkali kita telah banyak memiliki semacam perjanjian pada diri sendiri. Impian, jalan yang dilalui, hal-hal yang direncanakan untuk hidup, atau bahkan kenangan yang terus disimpan.


Teman, betapa gegas waktu berlari. Aku percaya ada banyak yang kita hadapi di luar kehendak. Namun semakin kepasrahan meninggi semakin banyak rasa syukur memenuhi hati hingga kuat adalah satu-satunya pilihan yang kupunya kini. Kurasa engkau pun demikian karena ingatan tentangmu juga adalah tentang sikap keikhlasan pada ketentuanNya. Kebaikanmu yang tak pernah hilang dari kedua belah mataku serta selalu ada kesabaran yang menenangkan yang kau bagi. Terima kasih atas segalanya. Betapapun yang terjadi pada kehidupan kita kini. Aku tak pernah ingin menyesalinya. Sebab rangkaian hidup juga adalah gumpalan perubahan. Dan kita hanya perlu menyiapkan hati pada tiap perubahan itu lalu memilih dengan cara apa kita menghadapinya.


Kau tahu mengapa aku menuliskan ini? Karena menulis adalah salah satu cara menyimpan kenangan tentangmu atau menjelaskan tentang segala sesuatu yang tak tersampaikan oleh lisan. Walaupun ada banyak hal yang perlu kau ketahui. Namun akhirnya aku memahami, pada setiap persahabatan, ia adalah titipan. Kita milikNya. Maka hanya kepadaNya kupinta penjagaan setiap waktu untukmu kala tak pernah lagi ada sua dan percakapan. Kupinta agar hidup dilingkupi keberkahan. Dan aku masih meminta, semoga hati dipenuhi dengan rasa kasih sayang serta semoga IA mencintai kita.


Lalu berikutnya. Pada apapun kehendak dan jalan yang kau pilih. Aku berharap kita masih berjalan menuju ampunanNya. Meski kadangkala kenangan membuat kubertanya, adakah kita masih termangu pada pikiran yang sama?


Pontianak, menuju akhir Juni 2013.
VCY, sisiungu.

Friday, April 12, 2013

Seharusnya




Kau tahu. Kadang kala aku heran. Mengapa manusia sering saling menuding? Yang satu mengatakan yang lain banyak salahnya. Yang lain bilang sebagian hanya bisa bicara . Adakah jengah saat saling melemparkan kritikan. Lalu saat bahkan banyak diantaranya tak bisa membantah, di sudut hati yang lain berteriak  girang. Bertepuk tangan. Manggut-manggut dan sepakat. Saling menjatuhkan.

Lama-lama hal yang benar adalah kita memang terpaksa harus melupakan apa saja yang sebaiknya kita lupakan. Dan apakah itu termasuk ukhuwah? Kurasa tidak.

Di sini, sering kukatakan pada diri. Seharusnya. Makin banyak mendengar, semakin banyak diam. Semakin banyak bicara, semakin banyak berbuat nyata. Namun sayangnya, barangkali hati tak begitu mengenal cara itu. 

Aku adakalanya lelah. Serta jauh sudah ingin meninggalkan jejak perbedaan yang kerap membuat kita menelikung seolah menjadi musuh. Meski aku masih terus meminta pada Nya agar mengirim kabar demi kabar supaya kelak kutemui oase bernama syurga.

Pertengan april. Kala musim semakin sulit ditebak. Matahari terang menyala kemudian sewaktu-waktu dalam beberapa menit berubah redup. Dunia semakin menua. Aku kini berjanji pada diri sendiri bahwa seharusnya belajar mengikis hawa nafsu dengan kelembutan hati, ilmu yang bermanfaat dan kemuliaan akhlaq.


April, 2013
VCY, sisiungu.


Tuesday, March 12, 2013

Lagi-lagi Cuma Rasa Syukur




Di langit siang benderang. Kota yang panas. Alunan musik tetangga menenggelamkan keinginan untuk terlelap barang sejenak. Hari libur begini, kala matahari telah lewat sepenggal di atas kepala akan ada nada dari belakang rumah yang membuat kepala berdenyut-denyut. Saya sendiri tidak tahu dengan tepat di rumah mana suara nyaring musik itu berasal. Kadangkala saya heran mengapa karaoke menjadi aktivitas yang dipilih padahal sudah peraturan jamak kalau siang adalah jeda waktu untuk orang lain beristirahat. Yah, sudahlah mari bersikap cuek. Irama baling-baling kipas angin yang teratur di sudut ruang ini lebih merdu bunyinya.

Saya pasang headset. Saya putar mp3 Koi. Tiba-tiba hati diliput haru. Banyak hal sebenarnya yang ingin saya tuliskan. Namun otak sedari tadi berputar pada kesimpulan-kesimpulan yang saya ambil setelah Allah tunjukkan sesuatu beberapa hari lalu.

“Jadi, apa yang ingin kau katakan?”

“Kesadaran yang saya awetkan sekarang.”
 
Bahwa berharap memiliki rasa sabar dan syukur itu sama saja diri harus siap dengan segala tempaan dari Nya. Mengharap meraih cintaNya sama saja diri harus yakin dengan jalan taqdir dariNya. Saya paham. Kehidupan yang saya jalani sekarang pastilah memiliki berjuta keajaiban yang Allah berikan. Hari ini, minggu depan, bulan, kemudian di tahun-tahun yang kan datang. Mari, terus berbaik sangka pada Allah bahwa semua perbuatanNya pasti benar, baik dan banyak hikmahnya walau tak sesuai keinginan kita.
 
Adapun duka yang dirasakan di hari lalu hanya perlu waktu untuk menetralisirnya sebentar. Jangan tanya serupa apakah duka yang saya bungkus itu sebab kini tiada lagi gumpalannya berdesak-desak. Namun yang tersisa hanya syukur. Lagi-lagi cuma rasa syukur. Dan sesungguhnya segala kesalahan yang terkenang kemudian membuat ada keinginan menyeruak di dada yaitu belajar kembali untuk lebih “sederhana”, serta menjadi sholeha. Meski tak mudah. Meski cuma Allah yang pantas menyematkan predikat itu. Diri hanya berusaha.

Nah.
 
La haula wala quwwata illa billah…



Maret, 2013.
VCY, sisiungu.